About me

Jeanesia P Edward

Senin, 29 Agustus 2011

Menunggu, hal yang paling membosankan dalam hidupku. Saat menunggu, aku selalu terbayang banyak hal, apalagi kini ku hidup di tengah-tengah orang baru, orang-orang yang selama ini tak pernah ku jumpa, dan tentunya dengan lingkungan baru yang biasanya aku hanya bisa membayangkan hidup di kota metropolitan, sekarang aku benar-benar ada dan hidup dalam lingkungan ini. 
Banyak, sangat banyak sekali kenangan, memori indah, baik, buruk, menyenangkan bahkan menyedihkan berputar-putar di benakku. Tapi kini aku benar-benar merindukan sosok sahabat, sahabatku yang jauh di seberang sana, sahabat yang tak pernah marah, polos, tempat berbagi cerita,  dan memiliki semangat hidup yang seringkali menginspirasiku. Semua kenangan itu menari-nari lincah, indah di pikiranku.
      Sebuah ujian mid semester sejarah mempertemukan kami menuju jalinan dua calon sahabat, satu per satu bab kami bahas di dalam sebuah kamar kecil dalam sal asrama SMA,
saling menjelaskan dan mendengarkan, dari proses inilah terbentuk sebuah komunikasi intern yang membuat kami mulai merasa dekat dan akrab. Dari sana kami mulai melakukan kegiatan-kegiatan di asrama bersama-sama, sampai akhirnya berbagi cerita, sharing dan les music bersama. Awalnya memang sekadar bercerita dengan masih membatasi ­privacy line kami masing-masing. Lama kelamaan kami merasa
cocok, setiap liburan kami jalan bareng, sewaktu belajar di asrama, aku sering belajar di kamarnya, dan dia pun begitu, cerita-cerita yang masuk dalam kategori ownself secret pun akhirnya saling kami ceritakan, pengalaman-pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berarti selalu kami bagi satu sama lain, saat aku mulai terpengaruh dengan godaan pubertas seorang remaja, ada sahabat yang mengingatkanku, aku harus selalu konsisten dengan mimpi dan tujuan hidupku. Setiap ada permasalahan, selalu ada jalan keluar, dan saling support dengan kegiatan masing-masing. Walau pun ada sedikit perselisihan, tapi itu lah bumbu sebuah persahabatan. Bukan hanya sekadar bergitar, biola, foto-foto     , cerita, hang out bersama, tapi bersedih dan bermimpi bersama. Dari sebuah persahabatan, kami mulai membangun mimpi-mimpi untuk masa depan, sebuah optimism tertanam dan tumbuh dalam diriku, semua hal telah menginspirasi dan memotivasiku, dan salah satunya adalah sahabatku..
Saat melihat gitar dan biola , saat mendengar syair-syair puisi, saat lagu-lagu armada dan ST12 dinyanyikan, saat lagu india kembali bergaung, saat mengingat pelajaran ips, saat melihat seorang bule, pikiranku langsung dikoneksikan dengan sahabatku itu, wajahnya terkilas di otakku dan suasana saat dengannya langsung bisa kurasakan . Sayang, kami harus terpisah karena mimpi dan nasib masing-masing.
 Salah satu hal yang paling aku takuti adalah berpisah dan lost contact dengannya, tapi perpisahan itu telah terjadi, kami berada di lain pulau, namun lost contact hampir saja terjadi, saat ia meneriakkan aku sombong, saat itu lah hatiku merasa hancur, seakan-akan bangunan kokoh yang baru selesai dibangun, runtuh berkeping-keping. Dunia, duniaku sekarang yang memaksaku seperti ini, tak punya waktu untuk berbagi dan untuk bersantai. Mudah-mudahan waktu akan cepat berlalu dan kami bisa bertemu kembali dan bercerita seperti dulu lagi.

Berlebihan, mungkin itulah yang terpikir oleh setiap orang yang membaca tulisan ini, namun inilah suara hati seorang gadis yang merindukan sosok sahabatnya, bersama sahabat, aku kuat, bersama sahabat, aku memiliki keluarga dan dunia baru, dan bersama sahabat, aku memperoleh satu mimpi awalku, kuliah di Universitas Indonesia.  Aku benar-benar merindukan sosok itu, seorang sahabatku yang sampai sekarang belum memiliki nasib bagus, tapi aku yakin, dengan semangatnya yang membara, ia mampu mencapai yeng terbaik, meskipun orang menilainya seperti seorang anak kecil yang belum beranjak dewasa. Aku merindukan sahabatku, Jeanesia P. Edward.. Mudah-mudahan suatu saat kita bisa bertemu kembali dengan kesuksesan masing-masing, dan tetap konsisten dengan prinsip hidup kita masing-masing.


-Jelsy T.Ch-

0 comments:

Posting Komentar