Review Film
The Boy in the Striped Pyjamas
Film The Boy in the Striped Pyjamas ini memiliki makna yang sangat dalam, karena film ini bercerita mengenai perseteruan antara Nazi dan Yahudi dari sudut pandang seorang anak kecil berusia delapan tahun, film ini mengajarkan kita agar menjauhi tindakan yang berbau kekerasan, nazisme, dan penindasan, karena hukum karma pasti akan berlaku. Disini, putra sang nazi itu sendiri yang menjadi korban dari kekerasannya. Karena pertemanan yang ia jalin secara diam-diam dengan Schmuel seorang anak Yahudi yang bekerja di camp yahudi tersebut dengan menggunakan piyama bergaris. Pembunuhan masal dengan menggunakan gas beracun yang dilakukan untuk membunuh para Yahudi justru menimpa Bruno sendiri. Pengemasan ceritanya pun begitu apik sehingga membuat saya penasaran dengan cerita-cerita yang akan terjadi berikutnya, alur cerita yang ditayangkan membuat emosi saya menjadi naik turun, dari rasa penasaran karena ceritanya yang sulit ditebak , menggemaskan, kagum dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Bruno, emosi dengan kekejaman-kekejaman yang diperbuat oleh kelompok Nazi, dan sedih karena di akhir cerita Bruno tewas disebabkan oleh ulah ayahnya sendiri.
2. Pesan penting yang disampaikan film ini
Pesan penting yang disampaikan dalam film ini adalah rasa kemanusiaan, Rasa kemanusiaan adalah hal yang terpenting dalam membangun peradaban manusia, karena sebuah peradaban akan menjadi hancur seiring dengan hilangnya rasa kemanusiaan, tidak ada celah untuk perdamaian, tidak ada tali silaturrahmi yang terjalin, tidak ada kerjasama yang saling menguntungkan jika rasa kemanusiaan telah hilang, semua dibedakan berdasarkan kasta, keyakinan, dan harta. Kekuasaan telah membutakan mata hati seseorang, namun film ini memberikan pelajaran yang sangat penting, yaitu sudah selayaknya semua orang menyadari pentingnya rasa kemanusiaan dan penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sedangkan ide pokok dari cerita ini adalah kekejaman yang dilakukan oleh para Nazi dari sudut pandang seorang anak kecil, dan dampaknya yang ditimbulkan dari kekejaman itu sendiri, yaitu tewasnya Bruno dalam pembunuhan masal orang Yahudi di camp yang dibuat oleh ayahnya sendiri.
3. Alur cerita dan penyampaian film ini
Alur cerita dari film ini adalah alur maju, dimana seiap cerita ditayangkan secara berurutan.Awalnya keluarga Nazi (Ayah, ibu, dan dua orang anak) pindah rumah ke Jerman karena ayah yang mendapat tugas untuk mengawasi camp yahudi yang terletak di pelosok Jerman. Dua orang anaknya memiliki watak yang berbeda, dimana putra yang tidak setuju nazi, dan putri yang mendewakan nazi. Si anak tidak tahu pekerjaan sebenarnya si Ayah, yang mereka tahu ayahnya adalah komandan perang yang baik, dan pemimpin yang bersahaja, namun kenyataannya ayahnya adalah komandan perang yang mengendalikan pembunuhan massal para tahanan yahudi, dua anaknya dilarang untuk keluar rumah karena alasan keamanan, namun dengan rasa penasaran yang tinggi dan jiwa petualang yang kuat, Bruno mencari jalan agar bisa keluar untuk bermain, saat ia berhasil keluar dari pekarangan rumah, ia menemukan seorang anak laki-laki menggunakan piyama bergaris bernama Schmuel yang duduk sendiri di dalam suatu pekarangan yang sangat luas yang dibatasi pagar berduri. Bruno dan Schmuel menjadi akrab dan saling bertukar cerita, mereka sering bermain bersama walaupun dibatasi oleh pagar.
Suatu hari Bruno ingin memasuki pekarangan tahanan para yahudi tersebut, karena penasaran dengan kegiatan yang dilakukan di sana, ia beranggapan kalau di camp tersebut ia bisa bersenang-senang, karena banyak anak kecil yang bisa bermain-main dengan menggunakan piyama yang sama. Dengan menggunakan piyama bergaris yang dipinjamkan oleh Schmuel, akhirnya Bruno berhasil memasuki camp tersebut. Pada saat itu juga, semua tahanan dimasukkan dalam suatu ruangan, di ruangan itu para tahanan melepaskan piyama yang dikenakan dan diberi serbuk mematikan, Bruno pun terjebak dalam ruangan itu dan terbunuh bersama para tahanan lainnya. Disini terlihat kekejaman yang dibuat oleh ayahnya sendiri berdampak pada kehilangan nyawa putra kandungnya. Terlihat di film itu penyesalan sang ayah dengan kebijakannya sendiri, sedangkan ibunya benar-benar merasakan kepedihan yang mendalam karena kehilangan putra kandung akibat ulah suaminya sendiri.
Penyampaian cerita film ini sebenarnya masih terlalu sederhana, dimana kekejaman yang diperlihatkan masih dari sudut pandang seorang anak kecil, penyebab dari terbunuhnya Bruno juga dikemas terlalu sederhana, yaitu saat ia bersiap-siap pindah ke kota, tiba-tiba Bruno menghilang dan mereka sekeluarga langsung panik. Konfliknya pun masih kurang maksimal, yaitu di saat sang isteri mengetahui kenyataan sebenarnya mengenai pekerjaan dan kebijakan suaminya, hati nuraninya menolak dan meminta suaminya menghentikan hal tersebut, namun sang suami tetap pada prinsipnya, sehingga muncul percekcokan, akhirnya sang suami memutuskan untuk memindahkan isteri dan anaknya ke rumah yang lain, dan ia tetap tinggal di rumah tersebut serta melanjutkan pekerjaan itu.
4. Alur penyampaian cerita bisa diikuti karena cerita yang disajikan runtut sesuai dengan kejadian dan tidak berbelit-belit. Sebenarnya maksud yang disampaikan bisa ditangkap di akhir cerita, namun ending tersebut masih kurang maksimal, dimana emosi penonton tiba-tiba berhenti di saat Bruno terperangkap dalam ruang pembunuhan massal. Di saat cerita berakhir, saya masih bingung dengan bagaimana cerita setelah Bruno terbunuh, apakah kebijakan yang diberlakukan oleh ayahnya diubah seiring terbunuhnya putra kandungnya karena ulahnya sendiri. Tapi hal ini merupakan pertanda film yang ditayangkan mudah dimengerti, dan menarik untuk diikuti, sehingga membuat penonton penasaran dengan ending cerita dan berharap masih ada cerita lanjutannya.
5. Relevansi topik dengan masa kini
Topik tentang persahabatan dan permusuhan yang disebabkan oleh perbedaan dalam film tersebut cukup relevan dengan keadaan zaman sekarang. Keadaan dimana perang dan permusuhan terjadi hanya karena perbedaan etnis, budaya, kelompok, dan lain-lain. Dalam film ini penggambaran betapa semangat nazi jerman untuk memusnahkan kaum yahudi terlihat jelas. Bila dikaitkan dengan tragedi kemanusiaan contohnya adalah situasi yang terjadi antara Palestina dan Israel. Perang perebutan wilayah terjadi dan telah menelan banyak korban jiwa dan harta. Semua itu terjadi karena perbedaan agama, etnis dan ras yang berujung pada perebutan wilayah dengan jalan perang. Semangat rasisme seperti nazi juga tidak hanya ada di Palestina tapi juga di Somalia, Bosnia, dan lain-lain. Juga terlihat ada proses pencucian otak dan doktrinasi pada generasi muda yang diberi pemahaman nasionalisme dan rasisme yang sangat kuat. Hal ini terjadi pada kakak Bruno yang diberi pemahaman tentang semangat nazi untuk memusnahkan etnis lain terutama yahudi. Mereka didatangkan seorang guru oleh ayah mereka yang menduduki jabatan penting dalam misi nazi tersebut.Guru tersebut bertugas untuk mengajarkan sejarah paham nazisme hingga kakak Bruno pun terpengaruh tapi tidak dengan Bruno. Bila dikaitkan dengan keadaan zaman sekarang kejadian seperti itu masih terjadi. Generasi muda yang masih labil dan masih mencari jati diri diberi pemahaman oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.
6. Sudut pandang pokok penulis skenario terhadap ide utama
Sudut pandang pokok penulis skenario terhadap ide utama ini adalah sudut pandang dari pihak keluarga nazi jerman yaitu si tokoh Bruno. Ide utama yang disampaikan yaitu tragedi holocaust yang dilakukan oleh nazi dan yang menjadi korban adalah yahudi. Film ini menggambarkan tragedi holocaust yang rumit dilihat dari sudut pandang seorang bocah berumur delapan tahun. Walaupun cerita ini dilihat dari sudut pandang tokoh yang polos tapi penonton bisa menebak makna dan pesan yang tersirat dibaliknya.
7. Bias yang muncul serta akhir atau kesimpulan film ini
Penulis skenario terkesan agak bias dalam penggambaran kedua kubu. Pihak nazi terkesan terlalu ambil kendali terhadap kaum yahudi. Terutama dalam penggambaran suasana camp tempat yahudi disekap. Suasana penghuni camp agak dipaksakan karena disana seperti menggambarkan bahwa camp dihuni oleh sekumpulan orang-orang yang nyaris gila. Seperti menggambarkan bahwa camp tersebut dikhususkan untuk orang-orang yang sudah kurang waras. Terlihat saat Bruno dan temannya memasuki area camp, disana orang-orang yahudi terlihat dungu seperti pasien rumah sakit jiwa. Mungkin penulis ingin menunjukkan bahwa intimidasi dan kekerasan telah mengubah kondisi psikologis mereka tapi agak kontras dengan Shmuel yang terlihat waras dan cukup ceria untuk seorang anak yang tumbuh dilingkungan seperti itu. Terutama saat orang-orang tersebut digiring ke ruangan pembakaran, suasana cemas dan takut manusia normal kurang digambarkan secara logis. Yang tampak hanya sekumpulan orang-orang gila yang tidak mengerti mau digiring kemana bahkan tidak tau bahwa mereka akan dibunuh. Kesimpulan di akhir cerita cukup memadai walaupun penggambarannya agak kurang logis. Ending yang mendadak dan mengejutkan terlihat agak sedikit dipaksakan.


0 comments:
Posting Komentar