Next Coming >> Commitee of Asia Pasific Student Forum - Universal Youth Alliance 2013 .........
Selasa, 29 Oktober 2013
Posted by
Jelsy Triwidya
at
23.13
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Penyesuaian Kerja Pada Mahasiswa Freelancer
Laporan Hasil Wawancara
I. Pendahuluan
a. Latar belakang
Bekerja merupakan fokus utama dari aktifitas dan pemikiran seseorang (Roe, 1956). Dengan bekerja, individu bisa bertahan hidup, bisa membiayai kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh Roe (1956) bahwa bekerja merupakan suatu pemuasan kebutuhan dasar manusia. Selain itu, dengan bekerja, diharapkan seseorang mampu meraih kematangan fisik (Dawis&Lofquist, 1984). Di satu sisi, bekerja menambah beban tugas, tetapi di sisi lain bekerja dipandang sebagai sarana untuk pengembangan diri dan aktualisasi diri, serta menambah pendapatan (Olson & hamilton, 19834). Bekerja memberikan arti tersendiri bagi masing-masing individu sehingga perlu dipelajari mengenai hubungan antara individu dengan pekerjaannya dan juga mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam penyesuaian kerja. Dari penjelasan di atas, maka penulis memilih topik mengenai penyesuaian kerja (work adjusment), khusunya pada mahasiswa yang masih berada pada jenjang perguruan tinggi.
Wawancara dilakukan terhadap seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia semester lima yang sudah bekerja. Pemilihan interwiewee ini didasarkan atas alasan availability dimana ia adalah teman dari interviewer yang memiliki ketersediaan waktu untuk berdiskusi dan wawancara di akhir pekan, mengingat rentang waktu untuk melaksanakan wawancara terbatas. Selain itu ability dari si interviewee juga memadai bagi interviewer dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, yakni mengenai penyesuaian kerja. Ditambah lagi dengan interviewee yang bersedia diwawancara tanpa adanya unsur paksaan sedikitpun.
b. Tujuan wawancara
Tujuan wawancara adalah untuk melihat apa saja masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia kerja, tingkat kesesuaian individu dengan lingkungan kerja dan pekerjaannya, serta bagaimana proses penyesuaian kerja dari individu tersebut.
c. Rancangan wawancara
Susunan pertanyaan dibuat berdasarkan teori penyesuaian kerja Dawis dan Lofquist (1984) yang terangkum antara lain, bekerja diartikan sebagai interaksi antara individu (work personality) dan
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.57
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Analisis Film Virgin Suicide
Oleh :
Jelsy Triwidya/
1106057102
Obedrey Willys Legi/
1106021922
Rully Swarnaputra
/1106011423
Sahda Febi Wilendari/
1106014394
Film Virgin Suicide
mengisahkan tentang tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh kelima anak
perempuan dari Mr. & Mrs.Lisbon. Kelima anak perempuan mereka adalah
Cecilia yang berumur 13 tahun, Lux 14 tahun, Bonnie 15 tahun, Marie 16 tahun,
dan Therese 17 tahun. Tindakan bunuh diri ini pada awalnya dilakukan oleh
Cecilia yang sangat membuat kaget keluarga Lisbon. Beruntung Cecilia masih bisa
diselamatkan dan dapat kembali menjalani aktivitasnya. Namun, tindakan bunuh
diri tersebut masih berlanjut beberapa bulan kemudian yang dilakukan oleh
Cecilia dan disusul keempat anak lainnya dalam satu waktu.
Bunuh diri merupakan
salah satu masalah yang cukup besar dalam kehidupan remaja dari tahun ke tahun,
apalagi di zaman globalisasi seperti sekarang ini. Nelson dan Crawford (1990)
menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kedua terbesar dari kematian
yang dialami oleh remaja berumur 15 hingga 19 tahun (dalam Bilgin,et.al, 2007).
Dari beberapa kasus yang terjadi, tindakan bunuh diri terjadi akibat
permasalahan dengan pasangan, permasalahan dengan lingkungan sosial tempat
remaja menjalani aktivitasnya, dan permasalahan dengan orangtua.
Dalam film Virgin
Suicide tindakan bunuh diri pada awalnya dilakukan oleh Cecilia yang
akhirnya meninggal pada percobaan bunuh diri untuk yang kedua kalinya. Cecilia termasuk anak yang pendiam, tidak suka keramaian, anti sosial, dan
terkesan memendam semua yang dia rasakan. Dalam film ini kami kurang
mendapatkan informasi masalah apa yang dihadapi oleh Cecilia. Psikiater yang
menanganinya juga mengatakan sebenarnya Cecilia tidak begitu punya keinginan
untuk bunuh diri. Tapi, asumsi kami adalah Cecilia mengalami depresi karena
lingkungan keluarga yang terlalu mengekang dia dan membatasi interaksi
sosialnya dengan teman-teman sebayanya yang seharusnya interaksi tersebut
menjadi sebuah kebutuhan bagi seorang anak yang menginjak usia remaja.
Kematian Cesilia mengakibatkan
keempat saudara perempuannya mengalami posttraumatic syndrome dengan
gejala susah tidur, mulai kehilangan energi, dan menghindar dari keramaian
seperti yang mereka lakukan di sekolah.
Dalam penelitian Ric (1992, dalam Kari & Atle 2005), saudara yang ditinggal
mati oleh karena bunuh diri mengalami perasaan shock dan diikuti oleh
perasaan marah ,kerentanan ,sedih , kesepian , dan depresi. Mereka juga
mengalami kesedihan yang lebih mendalam dan lama dibandingkan dengan kematian
saudara karena sakit. Davies (1995, dalam Kari & Atle 2005) menambahkan hal
ini juga akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari remaja tersebut, sehingga
dibutuhkan dukungan dari lingkungan sosial dan keluarga. Semenjak Lux jatuh
cinta pada seorang murid baru di sekolahnya, kehidupan mereka bersaudara mulai
membaik dan mulai merasakan kesenangan seperti remaja seusianya walaupun masih
di bawah pengawasan ketat kedua orang tua mereka. Hal ini terlihat ketika Mrs.
Lisbon memperbolehkan keempat anaknya untuk datang ke pesta di sekolah mereka
ditemani oleh masing-masing pasangannya dimana sebelumnya Mrs. Lisbon membatasi
pergaulan anak-anaknya dengan dunia luar.
Namun, terjadi hal
berbeda setelah pesta tersebut karena Lux pulang pagi hari sendirian dimana
malamnya dia bersama teman laki-lakinya. Setelah kejadian tersebut, Mrs. Lisbon
tidak memperbolehkan anaknya keluar rumah bahkan untuk pergi ke sekolah. Mereka
hanya dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia
luar. Tindakan Mrs. Lisbon yang mengekang pergaulan anak-anaknya dan membatasi
mereka dengan dunia luar ini mungkin bisa menjadi salah satu penyebab
dari tindakan bunuh diri yang dilakukan anak-anaknya. Van Orden et. al. (2010,
dalam Kring et. al., 2013) mengemukakan bahwa
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.32
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Cara Strawberry Cafe Menaikkan Mood Pengunjung
Esai
Psikologi Konsumen Tahun 2013
Oleh
: Jelsy Triwidya (1106057102)
Keywords: belanja, strawberry cafe, mood
Word counts: 613
Strawberry
cafe merupakan kafe yang menyasar segmen keluarga dan umumnya para kaum muda
yang enerjik, dinamis dan terus mencari sajian makanan yang tidak hanya lezat
namun juga unik, harga terjangkau, dan dilengkapi dengan lokasi yang nyaman sebagai tempat “nongkrong bareng”. Sampai saat ini strawberry cafe dapat dikatakan menjadi pemain utama di
bidang kafe bersegmen anak muda dengan brand awareness yang sangat kuat dan berbagai prestasi
termasuk diliput media dan tercatat di buku rekor Indonesia. Beberapa
kebanggaannya adalah terpilih menjadi wisata kuliner terfavorit di trans tv dan
menu surabi spesialnya dipesan oleh istana Presiden RI. (strawberrycafe.webs.com).
Kafe yang terletak di Jalan Gandaria 1 Jakarta Selatan ini juga menyediakan 400 permainan berjenis boardgames, sehingga pelanggan bisa
bermain sambil menunggu hidangan yang dipesan. Keunggulannya dalam menu, harga,
tempat dan fasilitas menjadikan tempat ini sering dikunjungi bahkan bukan hanya
untuk berbelanja saja, melainkan untuk meningkatkan mood yang sedang mengalami penurunan akibat aktifitas sehari-hari,
dan untuk memenuhi kepuasan berbelanja.
Menurut KBBI,
belanja berarti membeli di toko, kedai, dan sebagainya. Belanja memiliki nilai
yang berbeda-beda bagi setiap orang. Nilai itu sendiri menurut Holbrook (1986,
dalam Richard, et.al, 2007) melibatkan interaksi antara konsumen dengan produk
yang terkait bukan hanya pada objek tersebut, tapi juga pengalaman berbelanja
di dalamnya. Ada yang menilai tindakan berbelanja sebagai pemenuhan kebutuhan
dan ada yang menilai berbelanja sebagai suatu bentuk hedonis, yakni untuk
menunjukkan kepuasan pribadi dan ekspresi diri yang berkaitan dengan pengalaman
berbelanja (Babin et al. , 1994; Babin & Attaway, 2000, dalam Richard,
et.al , 2007). Kepuasan pribadi yang sering dijadikan nilai bagi seseorang
dalam berbelanja inilah yang menyebabkan munculnya perilaku shopcoholic, yakni
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.28
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)
