About me

Cara Strawberry Cafe Menaikkan Mood Pengunjung

Selasa, 29 Oktober 2013

Esai Psikologi Konsumen Tahun 2013
Oleh : Jelsy Triwidya (1106057102)
Keywords: belanja, strawberry cafe, mood
Word counts: 613                     
Strawberry cafe merupakan kafe yang menyasar segmen keluarga dan umumnya para kaum muda yang enerjik, dinamis dan terus mencari sajian makanan yang tidak hanya lezat namun juga unik, harga terjangkau, dan dilengkapi dengan lokasi yang nyaman sebagai tempat “nongkrong bareng”. Sampai saat ini strawberry cafe dapat dikatakan menjadi pemain utama di bidang kafe bersegmen anak muda dengan brand awareness yang sangat kuat dan berbagai prestasi termasuk diliput media dan tercatat di buku rekor Indonesia. Beberapa kebanggaannya adalah terpilih menjadi wisata kuliner terfavorit di trans tv dan menu surabi spesialnya dipesan oleh istana Presiden RI. (strawberrycafe.webs.com). Kafe yang terletak di Jalan Gandaria 1 Jakarta Selatan ini  juga menyediakan 400 permainan berjenis boardgames, sehingga pelanggan bisa bermain sambil menunggu hidangan yang dipesan. Keunggulannya dalam menu, harga, tempat dan fasilitas menjadikan tempat ini sering dikunjungi bahkan bukan hanya untuk berbelanja saja, melainkan untuk meningkatkan mood yang sedang mengalami penurunan akibat aktifitas sehari-hari, dan untuk memenuhi kepuasan berbelanja.
Menurut KBBI, belanja berarti membeli di toko, kedai, dan sebagainya. Belanja memiliki nilai yang berbeda-beda bagi setiap orang. Nilai itu sendiri menurut Holbrook (1986, dalam Richard, et.al, 2007) melibatkan interaksi antara konsumen dengan produk yang terkait bukan hanya pada objek tersebut, tapi juga pengalaman berbelanja di dalamnya. Ada yang menilai tindakan berbelanja sebagai pemenuhan kebutuhan dan ada yang menilai berbelanja sebagai suatu bentuk hedonis, yakni untuk menunjukkan kepuasan pribadi dan ekspresi diri yang berkaitan dengan pengalaman berbelanja (Babin et al. , 1994; Babin & Attaway, 2000, dalam Richard, et.al , 2007). Kepuasan pribadi yang sering dijadikan nilai bagi seseorang dalam berbelanja inilah yang menyebabkan munculnya perilaku shopcoholic, yakni
ketagihan untuk terus berbelanja sampai memperoleh kepuasan diri. Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk (2010), belanja bisa didasarkan atas motif rasional ataupun emosional. Menurut survey CWHB (2002, dalam Milland&Howard, 2007) pada 12 negara di Eropa, 31% pembeli memilih berbelanja untuk mencari kesenangan (emosional) dibanding lima pilihan lainnya. Motif emosional itu sendiri berarti memilih untuk berbelanja karena mengikuti kriteria pribadi atau subjektif, seperti rasa bangga, puas dan status (Schiffman & Kanuk, 2010). Selain itu, Richard, et.al (2007) menemukan bahwa aktivitas berbelanja sering dikendalikan oleh mood. Mood menurut Kring, et.al (2012) merupakan situasi emosi internal yang persisten dan bertahan lama, dialami dan dirasakan secara subyektif. Mood mungkin akan meningkat (elatif), normal, atau menurun (depresif). Mehrabian dan Russel (1974, dalam Richard et.al, 2007) mengatakan bahwa suasana dalam tempat berbelanja mempengaruhi mood konsumen, baik dalam hal gairah maupun kesenangan dalam berbelanja. Bergairah (arousal) berarti konsumen terangsang untuk berbelanja sedangkan kesenangan (pleasure) konsumen merasa senang, dan puas berada di tempat ia berbelanja. Hal ini menjadi bukti bahwa belanja sering dijadikan alasan bagi seseorang untuk meningkatkan mood yang tadinya menurun, khususnya berbelanja ke tempat yang nyaman dan membuat konsumen betah.
Kehadiran tempat-tempat berbelanja yang nyaman dan unik seakan menjawab keinginan konsumen yang menjadikan belanja sebagai sarana untuk meningkatkan mood yang sedang mengalami penurunan (depresif) dan sebagai ajang pemenuhan kesenangan serta kepuasan diri. Salah satu tempat berbelanja tersebut adalah Strawberry cafe, kafe ini menyediakan tempat berbelanja makanan yang nyaman dan unik, yakni dengan mendekorasi ruangan layaknya hutan strawberi sehingga mampu mempengaruhi mood konsumen yang berada di dalamnya, hal ini sesuai dengan penjelasan Mehrabian dan Russel (1974, dalam Richard et.al, 2007) bahwa suasana tempat berbelanja mempengaruhi mood konsumen. Selain itu, tersedianya menu-menu unik yang selalu berinovasi secara berkesinambungan dan 400 permainan berjenis boardgames membuat kafe ini dijadikan tujuan oleh banyak orang, khususnya kaum muda untuk berbelanja semata karena motif emosional dan pemenuhan kepuasan diri, yang ditunjukkan dengan adanya gairah (arousal) dan kesenangan (pleasure) dalam berbelanja. Orang yang sudah pernah berkunjung kesini akan cenderung kembali lagi untuk dapat memuaskan keinginan  yakni dengan mencoba setiap menu unik dan berbagai jenis permainan yang disediakan, hal inilah yang menyebabkan terbentuknya perilaku shopcoholic pada konsumen.      




Daftar Pustaka
Cafe, S. (2012). Strategi Pasar. Diakses dari http://cafestrawberry.webs.com/strategipasar
Kemdiknas. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia, diakses dari http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
Kring, A.M. et.al. (2013). Abnormal Psychology. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Millan, E.S., & Howard, E. (2007). Shopping for pleasure? shopping experiences of hungarian consumers. International Journal of Retail and Distribution Management. 35(6), 474
Richard, M., Hong, Y., Donna, S., & Chebat, J. (2007). The shopping experience of female fashion leaders. International Journal of retail and Distribution Management. 35(6), 488
Schiffman, L.G., & Kanuk, L.L. (2010). Consumer Bahavior (10th.ed). New Jersey: Pearson-Prentice Hall



Lampiran
1.      Foto Produk


                                   


                                                                                                     
2
              




                                            

0 comments:

Posting Komentar