Esai
Psikologi Konsumen Tahun 2013
Oleh
: Jelsy Triwidya (1106057102)
Keywords: belanja, strawberry cafe, mood
Word counts: 613
Strawberry
cafe merupakan kafe yang menyasar segmen keluarga dan umumnya para kaum muda
yang enerjik, dinamis dan terus mencari sajian makanan yang tidak hanya lezat
namun juga unik, harga terjangkau, dan dilengkapi dengan lokasi yang nyaman sebagai tempat “nongkrong bareng”. Sampai saat ini strawberry cafe dapat dikatakan menjadi pemain utama di
bidang kafe bersegmen anak muda dengan brand awareness yang sangat kuat dan berbagai prestasi
termasuk diliput media dan tercatat di buku rekor Indonesia. Beberapa
kebanggaannya adalah terpilih menjadi wisata kuliner terfavorit di trans tv dan
menu surabi spesialnya dipesan oleh istana Presiden RI. (strawberrycafe.webs.com).
Kafe yang terletak di Jalan Gandaria 1 Jakarta Selatan ini juga menyediakan 400 permainan berjenis boardgames, sehingga pelanggan bisa
bermain sambil menunggu hidangan yang dipesan. Keunggulannya dalam menu, harga,
tempat dan fasilitas menjadikan tempat ini sering dikunjungi bahkan bukan hanya
untuk berbelanja saja, melainkan untuk meningkatkan mood yang sedang mengalami penurunan akibat aktifitas sehari-hari,
dan untuk memenuhi kepuasan berbelanja.
Menurut KBBI,
belanja berarti membeli di toko, kedai, dan sebagainya. Belanja memiliki nilai
yang berbeda-beda bagi setiap orang. Nilai itu sendiri menurut Holbrook (1986,
dalam Richard, et.al, 2007) melibatkan interaksi antara konsumen dengan produk
yang terkait bukan hanya pada objek tersebut, tapi juga pengalaman berbelanja
di dalamnya. Ada yang menilai tindakan berbelanja sebagai pemenuhan kebutuhan
dan ada yang menilai berbelanja sebagai suatu bentuk hedonis, yakni untuk
menunjukkan kepuasan pribadi dan ekspresi diri yang berkaitan dengan pengalaman
berbelanja (Babin et al. , 1994; Babin & Attaway, 2000, dalam Richard,
et.al , 2007). Kepuasan pribadi yang sering dijadikan nilai bagi seseorang
dalam berbelanja inilah yang menyebabkan munculnya perilaku shopcoholic, yakni
ketagihan untuk terus berbelanja sampai memperoleh kepuasan diri. Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk (2010), belanja bisa didasarkan atas motif rasional ataupun emosional. Menurut survey CWHB (2002, dalam Milland&Howard, 2007) pada 12 negara di Eropa, 31% pembeli memilih berbelanja untuk mencari kesenangan (emosional) dibanding lima pilihan lainnya. Motif emosional itu sendiri berarti memilih untuk berbelanja karena mengikuti kriteria pribadi atau subjektif, seperti rasa bangga, puas dan status (Schiffman & Kanuk, 2010). Selain itu, Richard, et.al (2007) menemukan bahwa aktivitas berbelanja sering dikendalikan oleh mood. Mood menurut Kring, et.al (2012) merupakan situasi emosi internal yang persisten dan bertahan lama, dialami dan dirasakan secara subyektif. Mood mungkin akan meningkat (elatif), normal, atau menurun (depresif). Mehrabian dan Russel (1974, dalam Richard et.al, 2007) mengatakan bahwa suasana dalam tempat berbelanja mempengaruhi mood konsumen, baik dalam hal gairah maupun kesenangan dalam berbelanja. Bergairah (arousal) berarti konsumen terangsang untuk berbelanja sedangkan kesenangan (pleasure) konsumen merasa senang, dan puas berada di tempat ia berbelanja. Hal ini menjadi bukti bahwa belanja sering dijadikan alasan bagi seseorang untuk meningkatkan mood yang tadinya menurun, khususnya berbelanja ke tempat yang nyaman dan membuat konsumen betah.
ketagihan untuk terus berbelanja sampai memperoleh kepuasan diri. Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk (2010), belanja bisa didasarkan atas motif rasional ataupun emosional. Menurut survey CWHB (2002, dalam Milland&Howard, 2007) pada 12 negara di Eropa, 31% pembeli memilih berbelanja untuk mencari kesenangan (emosional) dibanding lima pilihan lainnya. Motif emosional itu sendiri berarti memilih untuk berbelanja karena mengikuti kriteria pribadi atau subjektif, seperti rasa bangga, puas dan status (Schiffman & Kanuk, 2010). Selain itu, Richard, et.al (2007) menemukan bahwa aktivitas berbelanja sering dikendalikan oleh mood. Mood menurut Kring, et.al (2012) merupakan situasi emosi internal yang persisten dan bertahan lama, dialami dan dirasakan secara subyektif. Mood mungkin akan meningkat (elatif), normal, atau menurun (depresif). Mehrabian dan Russel (1974, dalam Richard et.al, 2007) mengatakan bahwa suasana dalam tempat berbelanja mempengaruhi mood konsumen, baik dalam hal gairah maupun kesenangan dalam berbelanja. Bergairah (arousal) berarti konsumen terangsang untuk berbelanja sedangkan kesenangan (pleasure) konsumen merasa senang, dan puas berada di tempat ia berbelanja. Hal ini menjadi bukti bahwa belanja sering dijadikan alasan bagi seseorang untuk meningkatkan mood yang tadinya menurun, khususnya berbelanja ke tempat yang nyaman dan membuat konsumen betah.
Kehadiran
tempat-tempat berbelanja yang nyaman dan unik seakan menjawab keinginan
konsumen yang menjadikan belanja sebagai sarana untuk meningkatkan mood yang sedang mengalami penurunan
(depresif) dan sebagai ajang pemenuhan kesenangan serta kepuasan diri. Salah
satu tempat berbelanja tersebut adalah Strawberry
cafe, kafe ini menyediakan tempat
berbelanja makanan yang nyaman dan unik, yakni dengan mendekorasi ruangan
layaknya hutan strawberi sehingga mampu mempengaruhi mood konsumen yang berada di dalamnya, hal ini sesuai dengan
penjelasan Mehrabian dan Russel (1974, dalam Richard et.al, 2007) bahwa suasana
tempat berbelanja mempengaruhi mood konsumen.
Selain itu, tersedianya menu-menu unik yang selalu berinovasi secara
berkesinambungan dan 400 permainan berjenis boardgames
membuat kafe ini dijadikan tujuan oleh banyak orang, khususnya kaum muda
untuk berbelanja semata karena motif emosional dan pemenuhan kepuasan diri,
yang ditunjukkan dengan adanya gairah (arousal)
dan kesenangan (pleasure) dalam
berbelanja. Orang yang sudah pernah berkunjung kesini akan cenderung kembali
lagi untuk dapat memuaskan keinginan yakni dengan mencoba setiap menu unik dan
berbagai jenis permainan yang disediakan, hal inilah yang menyebabkan
terbentuknya perilaku shopcoholic pada
konsumen.
Daftar Pustaka
Kemdiknas.
(2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia,
diakses dari http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
Kring, A.M. et.al. (2013). Abnormal Psychology. New Jersey:
John Wiley & Sons, Inc.
Millan, E.S., & Howard, E. (2007).
Shopping for pleasure? shopping experiences of hungarian consumers. International Journal of Retail and
Distribution Management. 35(6), 474
Richard, M., Hong, Y., Donna, S., &
Chebat, J. (2007). The shopping experience of female fashion leaders. International Journal of retail and
Distribution Management. 35(6), 488
Schiffman, L.G., & Kanuk, L.L.
(2010). Consumer Bahavior (10th.ed). New Jersey: Pearson-Prentice
Hall
Lampiran
1. Foto Produk


2

0 comments:
Posting Komentar