Jika saya adalah seorang Puput, maka tindakan awal yang saya lakukan adalah berdiskusi dan mengumpulkan ide-ide dari kedua orangtua, teman-teman di kampus, mahalum, dan pihak bimbingan belajar karena masalah yang dihadapi tidak baik dipendam sendiri, masalah yang menumpuk bisa dikurangi dengan berbagi dengan orang-orang terdekat. Di samping itu, saya membuat list dari masalah-masalah yang saya hadapi, time table, dan skala prioritas, dimana saya harus mengurutkan kegiatan-kegiatan yang benar-benar harus dilakukan pada saat itu juga, pada waktu lain, atau mengabaikan beberapa kegiatan yang dianggap tidak penting.
Sebagai seorang akedimisi, tujuan utama saya adalah mengejar ilmu di bidang akademis, namun tidak tertutup kemungkinan untuk mengikuti berbagai organisasi, karena hal itu sangat bermanfaat untuk pengisian curriculum vitae dan karir di masa depan nantinya. Untuk sukses di bidang akademis, tentunya tidak bisa diperoleh secara instan, caranya adalah dengan belajar setiap hari dan tidak menunda-nunda waktu untuk membaca, belajar, dan membuat tugas. Sehingga di saat ada kepentingan mendesak, waktu belajar menjadi tidak terganggu.
Memegang tanggung jawab sebagai seorang project officer merupakan sebuah beban berat, karena kesuksesan acara berakar dari seorang project officer itu sendiri. Tapi bukan berarti semua tugas dibebankan kepada seorang PO, karena tanggung jawab dan wewenang seorang PO adalah mengkoordinir semua penanggung jawab di masing-masing bidang, berhubung saat ini terdapat kekurangan anggota di bidang perlengkapan dan medis, tindakan yang saya ambil adalah berdiskusi dan menampung ide-ide dari penanggung jawab bidang tersebut mengenai masalah yang terjadi dan menyerahkan tanggung jawab untuk mencari anggota kepada kedua penaggung jawab tersebut. Mengundurkan diri sebagai project officer merupakan keputusan yang sangat tidak tepat, selain dianggap tidak profesional dalam bekerja, tidak bertanggung jawab, pengalaman yang didapat pun tidak sempurna. Memegang tanggung jawab sebagai seorang project officer merupakan suatu pencapaian besar dan salah satu langkah konkret untuk mencapai masa depan, tujuan jangka pendek untuk menjadi seorang mapres dan jangka panjang sebagai seorang wanita karir.
Sebagai seorang staff di instansi bimbingan belajar, tugas yang didapat harus dilaksanakan demi sebuah profesionalitas dalam bekerja. Hal ini juga merupakan salah satu langkah konkret menuju karir masa depan dan sebagai seorang mahasiswi yang tidak ingin merepotkan orang tua. Namun di saat ada beberapa kepentingan lain yang mendesak, saya mencoba untuk mendiskusikan hal-hal yang saya hadapi pada pihak bimbingan belajar, barangkali saja ada keringanan yang bisa diberikan, seperti membebankan tugas ini pada staff lain, jika saya tidak mendapat keringanan tersebut, saya mencoba meminta bantuan kepada teman-teman di kampus, karena tugas yang diberikan terfokus pada latar belakang saya sebagi seorang mahasiswi psikologi, teman-teman saya juga seorang mahasiswi psikologi, sehingga tugas ini dapat terselesaikan tanpa harus mutlak saya yang melakukannya.
Ketiga masalah di atas adalah masalah penting dan memiliki nilai positif yang lebih banyak dibandingkan nilai negatifnya, namun tidak semuanya mendesak, dan ada masalah yang bisa diselesaikan tanpa harus melibatkan diri sendiri sepenuhnya. Tidak ada masalah yang mesti diabaikan, tapi kita tinggal menentukan waktu, prioritas, dan alternatif tindakan untuk melaksanakannya.
Disamping itu, saya juga harus meningkatkan internal locus of control yang saya miliki, karena semua hal yang saya alami adalah karena keputusan yang saya ambil sendiri, memilih untuk kuliah, memilih untuk berorganisasi dan menjadi seorang project officer, serta memilih untuk bekerja sambil kuliah.
Sumber
Arsendy, senza & Nadira Quamila. (2011). Galau dalam Memutuskan. Depok: TIMMeteriKamaba2011
Fanyiwi, Prasakti Tenri. (2011). Locus of Control. Depok: TIMMateriKamaba2011


0 comments:
Posting Komentar