Insight Psikologi Konsumen 7 November 2013
Minggu, 10 November 2013
ketika ada orang yang mengahmpirimu untuk bercerita (curhat), umumnya ia memiliki mood negatif. Di saat moodmu negatif atau bahkan positif sekalipun, jangan bawa mood tersebut padanya, karena bantuanmu hanya akan membuatnya semakin buruk. Berilah ia bantuan dengan membawa mood yang netral. Maka semua akan menjadi netral, walaupun tidak sepenuhnya.
Posted by
Jelsy Triwidya
at
09.53
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Strong...strong..please... -edisi tulisan amburadul-
Mulai masuk ke media sosial tengah malam memang terlalu rentan, sebahagia apapun harimu dari pagi tadi, kalau malamnya tau hal-hal sebenarnya ga perlu diketahui akan menghilangkan keinginanmu untuk tidur, dan mungkin juga semangat untuk menghadapi hari esok. Terkadang, berbagi cerita dengan orang lain tidak dapat selalu bisa dipercaya, kebanyakan mereka hanya mendengar karena penasaran, bukan karena benar-benar peduli. ya, ketika ada yang benar-benar peduli sekalipun, mau dibagi ke siapa tengah malam seperti ini? Media sosial sejenis twitter dan facebook sudah terlalu ramai, seakan tidak ada privasi, semua diumbar, semua. Tapi sebenarnya tak ada yang salah dengan itu, hanya saja kalau aku ikut mengumbar semua disana, malah akan merugikan diriku sendiri. Ya, disini aku bebas bercerita, hanya membagi dengan orang-orang terdekatku, meski kadang ada yang tak sengaja mampir. Tapi yasudahlah, bercerita disini membuatku jauh lebih lega, berkali-kali lipat. Tidak ada batasan huruf, tidak ada image yang harus dibangun, tidak ada yang memantau dan mengomentari.
Di saat merasa lelah dengan aktifitas hari ini, di saat itulah mood negatif mulai datang. Ketika dihadapkan dengan mood positif dari orang lain, maka mood negatif tersebut akan menjadi-jadi. Begitulah teori psikologi konsumen yang disampaikan Mas Harsus beberapa hari yang lalu. Dan ya, memang benar, malam ini benar-benar terjadi. Maka dari itu, ketika mood negatif mulai datang, yang perlu dilakukan adalah melawannya dengan mood netral. Seperti apa mood netral ? ya seperti yang aku lakukan sekarang, bercerita mengeluarkan semua yang ingin dikeluarkan, membuang perasaan-perasaan yang mengganggu pikiran.
Sekarang jadi mengerti sebabnya kenapa orang yang putus memilih untuk memutuskan juga pertemanan di media sosial. Bukan maksud ingin saling membenci, tapi hanya menjaga perasaan yang tidak cukup kuat untuk menerima kenyataan. Jangankan kenyataan yang sebenarnya, sesuatu yang dicurigai saja sudah mengiris-ngiris, bagaimana kalau seandainya kecurigaan itu benar-benar terjadi ? entahlah...
Di saat merasa lelah dengan aktifitas hari ini, di saat itulah mood negatif mulai datang. Ketika dihadapkan dengan mood positif dari orang lain, maka mood negatif tersebut akan menjadi-jadi. Begitulah teori psikologi konsumen yang disampaikan Mas Harsus beberapa hari yang lalu. Dan ya, memang benar, malam ini benar-benar terjadi. Maka dari itu, ketika mood negatif mulai datang, yang perlu dilakukan adalah melawannya dengan mood netral. Seperti apa mood netral ? ya seperti yang aku lakukan sekarang, bercerita mengeluarkan semua yang ingin dikeluarkan, membuang perasaan-perasaan yang mengganggu pikiran.
Sekarang jadi mengerti sebabnya kenapa orang yang putus memilih untuk memutuskan juga pertemanan di media sosial. Bukan maksud ingin saling membenci, tapi hanya menjaga perasaan yang tidak cukup kuat untuk menerima kenyataan. Jangankan kenyataan yang sebenarnya, sesuatu yang dicurigai saja sudah mengiris-ngiris, bagaimana kalau seandainya kecurigaan itu benar-benar terjadi ? entahlah...
Posted by
Jelsy Triwidya
at
08.49
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Yes, You Lie !
Kamis, 07 November 2013
Untuk menegakkan suatu diagnosa bukanlah hal yang mudah, butuh analisis dan kajian yang komprehensif terlebih dahulu. Tapi terlepas dari kajian menurut teori atau pendekatan si x, y, atau z, kali ini saya ingin menganalisis dengan sangat subjektif mengenai seseorang, ini murni pandangan sendiri dan tidak ada kaitannya dengan ilmu psikologi yang saya pelajari. Hal ini karena kebiasaan dalam mempelajari mengenai perilaku manusia yang menyebabkan saya lebih peka terhadap suatu tingkah laku yang tidak wajar.
Awal cerita, ada seseorang yang mengaku kenal dengan saya di media sosial. Dia mengaku pernah bertemu saya di stasiun UI, pernah bertemu lagi di acara Minang Culture Festival (MCF). Dari acara MCF itulah dia tahu bahwa saya adalah seorang mahasiswa psikologi. Lalu dia juga mengaku pernah membaca blog saya. Siapa dia? kenapa orang dengan follower ribuan tersebut begitu concern dengan saya? Sebelumnya saya berasumsi bahwa ia adalah orang yang memang sedikit tertarik dengan saya karena pernah bertemu sebelumnya, lalu mencari akun media sosial saya di google, sampai pada akhirnya bertemulah blog saya.
Namun saya merasa risih dengan asumsi tersebut, mengingat bahwa saya tidak sepelupa itu untuk pernah bertemu dengan orang baru di suatu tempat lalu melupakannya begitu saja. Maka saya mencoba mengunpulkan informasi tentang orang ini, dimulai dengan memahami setiap tweetnya, kenapa followernya bisa mencapai angka ribuan, padahal isinya hanya obrolan atau retweet-an saja. Siapa dia ? Apakah ia sepopuler itu ? Saya sengaja tidak menayanyakan asal dan profesinya sekarang, karena saya ingin mencari tahu sendiri. Lalu saya menemukan hal-hal mengenai dunia kedokteran, seperti foto-foto text book mahasiswa kedokteran dan gambar-gambar mengenai medical fact di akun media sosialnya, mengaku bahwa anggota eksekutif dari Ikatan Mahasiswa Kedokteran se-Indonesia. Tapi janggalnya, ia tidak pernah memiliki foto bersama teman-teman sekampus atau foto kegiatan di luar kampus, bahkan untuk sekadar poster acara yang diadakan di kampusnya. Jika hanya foto-foto textbook kedokteran dan gambar mengenai fakta kedokteran, bukankah di google image juga banyak? Beralih ke twitter, setelah ditelisik teman-teman obrolannya di twitter, ternyata hampir semua adalah mahasiswi fakultas kedokteran dari berbagai daerah, seperi FK lampung, Aceh, Banjarmasin, dll yang saya asumsikan mereka hanya berkenalan lewat media sosial. Dengan berkedok sebagai mahasiswa kedokteran dan memiliki follower yang banyak sebagai tanda kepopuleran, ia bisa berkenalan dan akrab dengan mereka bahkan sampai mendapatkan akun personalnya (a.k.a line). Lalu setelah ditelisik lagi, ternyata ribuan follower tersebut didapat dari aplikasi yang membuat orang lain mem-follow akunnya secara otomatis (autofollow). Jumlah tweet yang hampir setiap hari sampai angka belasan bahkan puluhan per harinya membuat kejanggalan baru bagi saya karena merupakan suatu ketidakwajaran bagi seorang mahasiswa kedokteran semester lima memiliki waktu selowong itu untuk nge-tweet yang hanya berisi obrolan tidak penting dengan orang-orang yang baru dikenal. Kejanggalan terakhir yang membuat saya yakin mengenai ketidakjujuran ini adalah informasi akun media sosial yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Bandung, sedangkan SMA dan kuliah di Surabaya, lalu bagaimana saya bisa bertemu di stasiun UI dan di acara paguyuban Minang Culture Festival dengannya ? Sesering itukah dia ke UI? dan mengapa dia bisa datang di acara paguyuban minang tersebut? sedangkan peserta saat itu tidak ada yang berasal dari Surabaya dan dia bukankah keturunan Minang
Dengan menemui kejanggalan-kejanggalan tersebut, saya akhirnya memiliki kesimpulan bahwa orang ini hanya tidak sengaja sampai pada blog saya karena kata kunci yang dicari di google terdapat di konten blog ini. Mungkin saja awalnya ia hanya ingin mengapresiasi tulisan saya yang ditemuinya di blog ini, namun dengan kebohongan awal yang ia buat membuat saya tidak respect dan menelisik kebohongan demi kebohongan lainnya. Jika suatu pertemanan sudah dimulai dengan kebohongan, maka kebohongan itulah yang nantinya akan mengakhiri hubungan pertemanan itu sendiri.
Tulisan ini tak lain hanyalah sebagai ajang evaluasi dan refleksi diri, agar dapat diambil pelajarannya baik bagi diri saya sendiri maupun orang yang membaca tulisan ini. Betapa dibencinya sikap bohong, karena hal tersebut merupakan salah satu ciri orang munafik. Pertanyaannya, siapa yag mau berteman dengan orang munafik?
Posted by
Jelsy Triwidya
at
12.07
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Next Coming >> Commitee of Asia Pasific Student Forum - Universal Youth Alliance 2013 .........
Selasa, 29 Oktober 2013
Posted by
Jelsy Triwidya
at
23.13
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Penyesuaian Kerja Pada Mahasiswa Freelancer
Laporan Hasil Wawancara
I. Pendahuluan
a. Latar belakang
Bekerja merupakan fokus utama dari aktifitas dan pemikiran seseorang (Roe, 1956). Dengan bekerja, individu bisa bertahan hidup, bisa membiayai kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh Roe (1956) bahwa bekerja merupakan suatu pemuasan kebutuhan dasar manusia. Selain itu, dengan bekerja, diharapkan seseorang mampu meraih kematangan fisik (Dawis&Lofquist, 1984). Di satu sisi, bekerja menambah beban tugas, tetapi di sisi lain bekerja dipandang sebagai sarana untuk pengembangan diri dan aktualisasi diri, serta menambah pendapatan (Olson & hamilton, 19834). Bekerja memberikan arti tersendiri bagi masing-masing individu sehingga perlu dipelajari mengenai hubungan antara individu dengan pekerjaannya dan juga mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam penyesuaian kerja. Dari penjelasan di atas, maka penulis memilih topik mengenai penyesuaian kerja (work adjusment), khusunya pada mahasiswa yang masih berada pada jenjang perguruan tinggi.
Wawancara dilakukan terhadap seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia semester lima yang sudah bekerja. Pemilihan interwiewee ini didasarkan atas alasan availability dimana ia adalah teman dari interviewer yang memiliki ketersediaan waktu untuk berdiskusi dan wawancara di akhir pekan, mengingat rentang waktu untuk melaksanakan wawancara terbatas. Selain itu ability dari si interviewee juga memadai bagi interviewer dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, yakni mengenai penyesuaian kerja. Ditambah lagi dengan interviewee yang bersedia diwawancara tanpa adanya unsur paksaan sedikitpun.
b. Tujuan wawancara
Tujuan wawancara adalah untuk melihat apa saja masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia kerja, tingkat kesesuaian individu dengan lingkungan kerja dan pekerjaannya, serta bagaimana proses penyesuaian kerja dari individu tersebut.
c. Rancangan wawancara
Susunan pertanyaan dibuat berdasarkan teori penyesuaian kerja Dawis dan Lofquist (1984) yang terangkum antara lain, bekerja diartikan sebagai interaksi antara individu (work personality) dan
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.57
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Analisis Film Virgin Suicide
Oleh :
Jelsy Triwidya/
1106057102
Obedrey Willys Legi/
1106021922
Rully Swarnaputra
/1106011423
Sahda Febi Wilendari/
1106014394
Film Virgin Suicide
mengisahkan tentang tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh kelima anak
perempuan dari Mr. & Mrs.Lisbon. Kelima anak perempuan mereka adalah
Cecilia yang berumur 13 tahun, Lux 14 tahun, Bonnie 15 tahun, Marie 16 tahun,
dan Therese 17 tahun. Tindakan bunuh diri ini pada awalnya dilakukan oleh
Cecilia yang sangat membuat kaget keluarga Lisbon. Beruntung Cecilia masih bisa
diselamatkan dan dapat kembali menjalani aktivitasnya. Namun, tindakan bunuh
diri tersebut masih berlanjut beberapa bulan kemudian yang dilakukan oleh
Cecilia dan disusul keempat anak lainnya dalam satu waktu.
Bunuh diri merupakan
salah satu masalah yang cukup besar dalam kehidupan remaja dari tahun ke tahun,
apalagi di zaman globalisasi seperti sekarang ini. Nelson dan Crawford (1990)
menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kedua terbesar dari kematian
yang dialami oleh remaja berumur 15 hingga 19 tahun (dalam Bilgin,et.al, 2007).
Dari beberapa kasus yang terjadi, tindakan bunuh diri terjadi akibat
permasalahan dengan pasangan, permasalahan dengan lingkungan sosial tempat
remaja menjalani aktivitasnya, dan permasalahan dengan orangtua.
Dalam film Virgin
Suicide tindakan bunuh diri pada awalnya dilakukan oleh Cecilia yang
akhirnya meninggal pada percobaan bunuh diri untuk yang kedua kalinya. Cecilia termasuk anak yang pendiam, tidak suka keramaian, anti sosial, dan
terkesan memendam semua yang dia rasakan. Dalam film ini kami kurang
mendapatkan informasi masalah apa yang dihadapi oleh Cecilia. Psikiater yang
menanganinya juga mengatakan sebenarnya Cecilia tidak begitu punya keinginan
untuk bunuh diri. Tapi, asumsi kami adalah Cecilia mengalami depresi karena
lingkungan keluarga yang terlalu mengekang dia dan membatasi interaksi
sosialnya dengan teman-teman sebayanya yang seharusnya interaksi tersebut
menjadi sebuah kebutuhan bagi seorang anak yang menginjak usia remaja.
Kematian Cesilia mengakibatkan
keempat saudara perempuannya mengalami posttraumatic syndrome dengan
gejala susah tidur, mulai kehilangan energi, dan menghindar dari keramaian
seperti yang mereka lakukan di sekolah.
Dalam penelitian Ric (1992, dalam Kari & Atle 2005), saudara yang ditinggal
mati oleh karena bunuh diri mengalami perasaan shock dan diikuti oleh
perasaan marah ,kerentanan ,sedih , kesepian , dan depresi. Mereka juga
mengalami kesedihan yang lebih mendalam dan lama dibandingkan dengan kematian
saudara karena sakit. Davies (1995, dalam Kari & Atle 2005) menambahkan hal
ini juga akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari remaja tersebut, sehingga
dibutuhkan dukungan dari lingkungan sosial dan keluarga. Semenjak Lux jatuh
cinta pada seorang murid baru di sekolahnya, kehidupan mereka bersaudara mulai
membaik dan mulai merasakan kesenangan seperti remaja seusianya walaupun masih
di bawah pengawasan ketat kedua orang tua mereka. Hal ini terlihat ketika Mrs.
Lisbon memperbolehkan keempat anaknya untuk datang ke pesta di sekolah mereka
ditemani oleh masing-masing pasangannya dimana sebelumnya Mrs. Lisbon membatasi
pergaulan anak-anaknya dengan dunia luar.
Namun, terjadi hal
berbeda setelah pesta tersebut karena Lux pulang pagi hari sendirian dimana
malamnya dia bersama teman laki-lakinya. Setelah kejadian tersebut, Mrs. Lisbon
tidak memperbolehkan anaknya keluar rumah bahkan untuk pergi ke sekolah. Mereka
hanya dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia
luar. Tindakan Mrs. Lisbon yang mengekang pergaulan anak-anaknya dan membatasi
mereka dengan dunia luar ini mungkin bisa menjadi salah satu penyebab
dari tindakan bunuh diri yang dilakukan anak-anaknya. Van Orden et. al. (2010,
dalam Kring et. al., 2013) mengemukakan bahwa
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.32
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Cara Strawberry Cafe Menaikkan Mood Pengunjung
Esai
Psikologi Konsumen Tahun 2013
Oleh
: Jelsy Triwidya (1106057102)
Keywords: belanja, strawberry cafe, mood
Word counts: 613
Strawberry
cafe merupakan kafe yang menyasar segmen keluarga dan umumnya para kaum muda
yang enerjik, dinamis dan terus mencari sajian makanan yang tidak hanya lezat
namun juga unik, harga terjangkau, dan dilengkapi dengan lokasi yang nyaman sebagai tempat “nongkrong bareng”. Sampai saat ini strawberry cafe dapat dikatakan menjadi pemain utama di
bidang kafe bersegmen anak muda dengan brand awareness yang sangat kuat dan berbagai prestasi
termasuk diliput media dan tercatat di buku rekor Indonesia. Beberapa
kebanggaannya adalah terpilih menjadi wisata kuliner terfavorit di trans tv dan
menu surabi spesialnya dipesan oleh istana Presiden RI. (strawberrycafe.webs.com).
Kafe yang terletak di Jalan Gandaria 1 Jakarta Selatan ini juga menyediakan 400 permainan berjenis boardgames, sehingga pelanggan bisa
bermain sambil menunggu hidangan yang dipesan. Keunggulannya dalam menu, harga,
tempat dan fasilitas menjadikan tempat ini sering dikunjungi bahkan bukan hanya
untuk berbelanja saja, melainkan untuk meningkatkan mood yang sedang mengalami penurunan akibat aktifitas sehari-hari,
dan untuk memenuhi kepuasan berbelanja.
Menurut KBBI,
belanja berarti membeli di toko, kedai, dan sebagainya. Belanja memiliki nilai
yang berbeda-beda bagi setiap orang. Nilai itu sendiri menurut Holbrook (1986,
dalam Richard, et.al, 2007) melibatkan interaksi antara konsumen dengan produk
yang terkait bukan hanya pada objek tersebut, tapi juga pengalaman berbelanja
di dalamnya. Ada yang menilai tindakan berbelanja sebagai pemenuhan kebutuhan
dan ada yang menilai berbelanja sebagai suatu bentuk hedonis, yakni untuk
menunjukkan kepuasan pribadi dan ekspresi diri yang berkaitan dengan pengalaman
berbelanja (Babin et al. , 1994; Babin & Attaway, 2000, dalam Richard,
et.al , 2007). Kepuasan pribadi yang sering dijadikan nilai bagi seseorang
dalam berbelanja inilah yang menyebabkan munculnya perilaku shopcoholic, yakni
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.28
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Everyone has a purpose
Selasa, 17 September 2013
In life, you will realize there is a role for everyone you meet. Some will test you, some will use you, some will love you and some will teach you. But the ones who are truly important are the ones who bring out the best in you. They are the amazing people who remind you why it's worth it
Posted by
Jelsy Triwidya
at
23.25
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Dress Accordingly !
Cara kita menampilkan diri memiliki efek yang cukup besar pada cara kita bertindak. Kesimpulan dari penemuan David Mc.Raney mengatakan ketika kita berpakaian seperti seorang yang cerdas, maka kita akan berfikir bahwa kita cerdas dan sebaliknya. Meski hal ini bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana kita berfikir mengenai diri sendiri, jangan pernah berfikir kalau pakaian yang kita kenakan tidak berpengaruh terhadap pekerjaan dan performa
Sumber
Dachis, A. (2013). Your Clothing can Affect Your Actions, So Dress Accordingly. Diakses pada 18 September 2013 dari http://lifehacker.com/your-clothing-can-affect-your-actions-so-dress-accordi-1325778173
Posted by
Jelsy Triwidya
at
23.01
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Be confident as well !
percaya pada diri sendiri menjadi keharusan, kah?
Ini adalah pertanyaanku hampir setiap malam saat sebelum tidur. Di saat instropeksi diri, di saat kita menyerap dan mengevaluasi semua hal positif dan negatif yang didapat setiap hari, di saat kita mau merubah diri menjadi lebih baik, di saat itulah pertanyaanku ini perlahan mulai terjawab.
Saat diamanahkan menjadi wakil ketua pelaksana salah satu acara fakultas semester 2 dulu, saya tidak percaya pada diri sendiri, saya tidak total bekerja, saya takut orang tidak mempercayai saya, saya takut acara nantinya gagal, saya terlalu memikirkan pandangan orang, akibatnya alur koordinasi menjadi tidak jelas, di bawah kontrol saya sebagai koordinator lapangan saat itu, acara sangat biasa saja, antar panitia juga tidak begitu kompak. Siapa yang patut disalahkan? Yap, saya yang tidak percaya diri dalam bersikap dan bertindak. Namun tetap tak kunjung mengevaluasi diri, saya menolak menjadi penanggung jawab acara salah satu acara fakultas di semester 3 lalu, karena masih belum percaya diri dan merasa beban itu terlalu berat. Setelah itu saya tidak pernah ditawari lagi menjadi panitia inti/BPH di acara fakultas. Salah siapa ? Yap tentunya bukan salah orang lain. Saat diamanahkan menjadi ketua pelaksana/ Project Officer acara baru dari paguyuban minang di kampus, saya masih ragu, masih kurang percaya diri dalam memimpin, namun tetap optimis acara itu akan sukses di bawah kendali saya. Setiap feedback positif dan negatif menjadi bahan evaluasi setiap malam selama proses persiapan acara. Saya berpikir saya bisa, total dalam bekerja, dukungan orang-orang terdekat juga menjadi kekuatan waktu itu, Alhamdulillah di akhir acara saya mendapat lebih banyak feedback positif dibanding negatif.
Penilaian terhadap diri sendiri, kritik dan saran dari orang lain, menyerap ilmu baik dari lingkungan, saya rasa cukup untuk mengevaluasi dan mengupgrade diri menjadi lebih baik. Saya kembali ditawari menjadi BPH sebagai penanggung jawab acara PSAF KAMABA 2013 (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas Kegiatan Mahasiswa Baru) Fakultas Psikologi. Tidak ada alasan lagi untuk tidak percaya diri. Saat kita meyakini bahwa diri kita hebat, maka ia akan menjadi hebat. Alhamdulillah saat itu saya mendapat banyak feedback positif sebagai Stage Manager di hari PSAF. Efeknya tidak main-main, menjalar ke ranah lain, seperti akademik dan sosial.
Untuk ranah akademik misalnya, saya menjadi lebih percaya diri di kelas, saya mendapat tawaran menyusun naskah buku ajar untuk mata kuliah Individu Kebudayaan Masyarakat, dipilih menjadi ketua kelompok, menjadi perwakilan untuk mengikuti workshop, mendapat feedback positif untuk peragaan interviewing, dll. Hal-hal kecil seperti ini mungkin menjadi hal yang biasa bagi orang lain, namun menjadi luar biasa bagi saya yang dulunya tidak percaya diri bekerja dalam kelompok dan cenderung mengikuti saja pendapat orang lain.
Untuk hal sosial, saya menjadi tidak tergantung pada satu kelompok saja, saya menjadi lebih fleksibel dan berbaur dengan banyak kelompok. Tentunya menjadi lebih dikenal di lingkungan kampus.
Untuk hal pribadi, saya menjadi lebih terstruktur dan terencana, setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya mengecat kamar dan mendekorasinya senyaman mungkin, membeli semua pelengkapan yang mendukung perencanaan dan kenyamanan belajar, pembagian waktu dan prioritas belajar menjadi semakin baik, saya menjadi lebih semangat dan tidak pernah telat ke kampus, membawa diri yang penuh semangat dan bisa belajar di lingkungan akademik dan sosial yang nyaman juga tentunya.
Betapa, evaluasi diri dan menjadi percaya pada diri sendiri sangat penting untuk membuat suatu perubahan besar dalam hidup seseorang. Semoga apa yang telah saya dapat, bisa terus konsisten dan menjalar dalam kehidupan selanjutnya. Mudah-mudahan hal ini bisa mendukung saya dalam membuat terobosan-terobosan yang lebih besar lagi..
Masih tidak mau percaya pada diri sendiri ? :)
Ini adalah pertanyaanku hampir setiap malam saat sebelum tidur. Di saat instropeksi diri, di saat kita menyerap dan mengevaluasi semua hal positif dan negatif yang didapat setiap hari, di saat kita mau merubah diri menjadi lebih baik, di saat itulah pertanyaanku ini perlahan mulai terjawab.
Saat diamanahkan menjadi wakil ketua pelaksana salah satu acara fakultas semester 2 dulu, saya tidak percaya pada diri sendiri, saya tidak total bekerja, saya takut orang tidak mempercayai saya, saya takut acara nantinya gagal, saya terlalu memikirkan pandangan orang, akibatnya alur koordinasi menjadi tidak jelas, di bawah kontrol saya sebagai koordinator lapangan saat itu, acara sangat biasa saja, antar panitia juga tidak begitu kompak. Siapa yang patut disalahkan? Yap, saya yang tidak percaya diri dalam bersikap dan bertindak. Namun tetap tak kunjung mengevaluasi diri, saya menolak menjadi penanggung jawab acara salah satu acara fakultas di semester 3 lalu, karena masih belum percaya diri dan merasa beban itu terlalu berat. Setelah itu saya tidak pernah ditawari lagi menjadi panitia inti/BPH di acara fakultas. Salah siapa ? Yap tentunya bukan salah orang lain. Saat diamanahkan menjadi ketua pelaksana/ Project Officer acara baru dari paguyuban minang di kampus, saya masih ragu, masih kurang percaya diri dalam memimpin, namun tetap optimis acara itu akan sukses di bawah kendali saya. Setiap feedback positif dan negatif menjadi bahan evaluasi setiap malam selama proses persiapan acara. Saya berpikir saya bisa, total dalam bekerja, dukungan orang-orang terdekat juga menjadi kekuatan waktu itu, Alhamdulillah di akhir acara saya mendapat lebih banyak feedback positif dibanding negatif.
Penilaian terhadap diri sendiri, kritik dan saran dari orang lain, menyerap ilmu baik dari lingkungan, saya rasa cukup untuk mengevaluasi dan mengupgrade diri menjadi lebih baik. Saya kembali ditawari menjadi BPH sebagai penanggung jawab acara PSAF KAMABA 2013 (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas Kegiatan Mahasiswa Baru) Fakultas Psikologi. Tidak ada alasan lagi untuk tidak percaya diri. Saat kita meyakini bahwa diri kita hebat, maka ia akan menjadi hebat. Alhamdulillah saat itu saya mendapat banyak feedback positif sebagai Stage Manager di hari PSAF. Efeknya tidak main-main, menjalar ke ranah lain, seperti akademik dan sosial.
Untuk ranah akademik misalnya, saya menjadi lebih percaya diri di kelas, saya mendapat tawaran menyusun naskah buku ajar untuk mata kuliah Individu Kebudayaan Masyarakat, dipilih menjadi ketua kelompok, menjadi perwakilan untuk mengikuti workshop, mendapat feedback positif untuk peragaan interviewing, dll. Hal-hal kecil seperti ini mungkin menjadi hal yang biasa bagi orang lain, namun menjadi luar biasa bagi saya yang dulunya tidak percaya diri bekerja dalam kelompok dan cenderung mengikuti saja pendapat orang lain.
Untuk hal sosial, saya menjadi tidak tergantung pada satu kelompok saja, saya menjadi lebih fleksibel dan berbaur dengan banyak kelompok. Tentunya menjadi lebih dikenal di lingkungan kampus.
Untuk hal pribadi, saya menjadi lebih terstruktur dan terencana, setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya mengecat kamar dan mendekorasinya senyaman mungkin, membeli semua pelengkapan yang mendukung perencanaan dan kenyamanan belajar, pembagian waktu dan prioritas belajar menjadi semakin baik, saya menjadi lebih semangat dan tidak pernah telat ke kampus, membawa diri yang penuh semangat dan bisa belajar di lingkungan akademik dan sosial yang nyaman juga tentunya.
Betapa, evaluasi diri dan menjadi percaya pada diri sendiri sangat penting untuk membuat suatu perubahan besar dalam hidup seseorang. Semoga apa yang telah saya dapat, bisa terus konsisten dan menjalar dalam kehidupan selanjutnya. Mudah-mudahan hal ini bisa mendukung saya dalam membuat terobosan-terobosan yang lebih besar lagi..
Masih tidak mau percaya pada diri sendiri ? :)
Posted by
Jelsy Triwidya
at
05.44
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kamis, 18 Juli 2013
I'm falling in love (again) ...
I hope I could fall for You everyday
As same as I feel today
I Love You, Allah
I hope I could fall for You everyday
As same as I feel today
I Love You, Allah
Posted by
Jelsy Triwidya
at
10.11
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Tugas Psikologi Lintas Budaya : Asal muasal "aku"
Jumat, 28 Juni 2013
Keluarga
besar saya merupakan keluarga suku minang asli, Sumatera Barat. Di keluarga
besar ayah maupun ibu tidak begitu banyak yang merantau, sehingga dalam memilih
pasangan hidup mereka cenderung memilih orang suku minang asli. Orang tua dari
ibu merupakan orang yang masih menganut kebudayaan dan adat minang yang kental.
Adat minang sangat dijunjung tinggi, mereka meletakkan adat bersanding dengan
agama. Berbeda dengan keluarga besar dari ayah, mereka lebih menekankan ajaran
islam di keluarga, namun tetap memakai adat yang telah diwariskan turun
temurun. Ayah saya pernah merantau ke ibukota Jakarta saat remaja dulu,
sehingga wawasannya lebih luas dan berpikir lebih terbuka. Jika dalam adat
minang, setelah pernikahan biasanya suami tinggal di rumah keluarga isteri,
ayah lebih memilih untuk mengontrak rumah di kota asalnya yaitu kota
Padangpanjang yang kualitas pendidikannya jauh lebih maju dari kota asal ibu,
Posted by
Jelsy Triwidya
at
01.31
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Merindukan Almh. Annisa Azwar
Kamis, 27 Juni 2013
Tiba-tiba aku berfikir, ternyata kematian semudah itu, sesimpel itu. Baru kemaren kita latihan tari payung, baru kemarennya ngobrol via sms, twitter, dan chatting. Baru kemaren ketemu di bikun, baru kemaren nginap di kos Icha atau Icha nginap di kontarakan, baru kemaren pergi rapat lanjut cerita-cerita ngalur ngidul, baru kemaren main truth or dare, baru kemaren karaokean bareng, baru kemaren bantu-bantuin penari berias untuk manggung di fakultas Icha, baru kemaren ini, itu, begitu banyak. Lalu dalam sekejap, 10 Februari 2013, aku melihat sosok Icha terbaring hening di sudut ruang kamar rumah sakit, terbungkus kain kapan dan tetap hening meski semua memusatkan perhatian pada Icha. Kamera, wartawan, keluarga, teman, dan lain-lain. Icha tetap hening.
Sambil menatap jasad yang begitu tenang, beterbangan bayangan serta kenangan bersama Icha, sikap polos, lembut, baik, sopan, kau begitu sempurna sebagai wanita cha. Setiap melatih adik-adik tari payung, aku sedih, teringat ayunan tangan dan badanmu yang begitu gemulai ketika kita latihan, melihat adik-adik tampil membawakan tari payung, wajahmu semakin merekap masuk ke pikiranku, aku rindu, senyummu yang begitu anggun ketika tampil, ah Icha. Semakin tak kuat jariku menulis cerita untukmu. Aku begitu rindu padamu, ternyata memang, kematian semudah dan sesimpel itu, sesimpel sakit perut, sesimpel tertabrak kereta api, sesimpel jatuh dari mobil, sesimpel terpeleset di kamar mandi, dan sesimpel hal lainnya. Sebentar, lalu kau pergi jauh hilang dari pandangan kami, dan pada akhirnya hanya meninggalkan kenangan. Rindu itu akan selalu ada Cha, selalu ada ketika tiba-tiba teringat wajah atau cerita tentang Icha. Sampai ketemu disana Cha, semoga kita bertemu di tempat terbaik yang telah disediakan Allah untuk kita :)
Posted by
Jelsy Triwidya
at
13.47
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Pacar tidak sama dengan suami
Perihatin, kenapa kebanyakan wanita berkerudung memamerkan foto-foto tanpa kerudung kepada pacarnya. Belum tentu jadi suami juga :)
*observasi dari 9 orang teman yang pacaran
*observasi dari 9 orang teman yang pacaran
Posted by
Jelsy Triwidya
at
12.27
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Challenge Your Self
Selasa, 11 Juni 2013
When
I’m confused with all those life, the most important to do is repairing. Trying
to repair all mistakes before and avoid apathy. Trying to fulfill all of
needs, need for achievement, for powerment, and for affiliation. First, need for
achievement, hmm could be one of the biggest hope to be invited to international
conference to present paper and essay. Second, need for empowerment? I push my
effort to be a true leader, mainly for my own self first then for others. Thing
mostly to do is learning, not imitation! take the lessons from every single
experiences I got. Challenge my own self with all environment demand which
opposite with my characteristic and personality. Not all streams must be
followed, right? Sometimes, request from
inner self isn’t always to be fulfilled, the more important is to be rejected.
Challenge the self and get the lesson from it! I’ve known my characters and
personality. I know how people think about me, so I already have self-concept, when not satisfied, it means I get survival
anxiety and it’s great which is this feeling improve the individual to change,
reject what things requested by inner self, No excuse!! Never ever let learning
anxiety decrease the intention to change. The basic tendency can be changed by
character adaptation, its like
biological bases could be change by adding positive external influence.
Last, need for affiliation easily got from the all of kindness on own self,
agreeableness will bring me and you to the tight and large social relationship. All of us need those three basic needs, the
differences are based on own target, effort and the way we complete that.
Sumangaik for me, for all of us !! J
Posted by
Jelsy Triwidya
at
13.19
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)
