About me

Insight Psikologi Konsumen 7 November 2013

Minggu, 10 November 2013

ketika ada orang yang mengahmpirimu untuk bercerita (curhat), umumnya ia memiliki mood negatif. Di saat moodmu negatif atau bahkan positif sekalipun, jangan bawa mood tersebut padanya, karena bantuanmu hanya akan membuatnya semakin buruk. Berilah ia bantuan dengan membawa mood yang netral. Maka semua akan menjadi netral, walaupun tidak sepenuhnya.

Strong...strong..please... -edisi tulisan amburadul-

Mulai masuk ke media sosial tengah malam memang terlalu rentan, sebahagia apapun harimu dari pagi tadi, kalau malamnya tau hal-hal sebenarnya ga perlu diketahui akan menghilangkan keinginanmu untuk tidur, dan mungkin juga semangat untuk menghadapi hari esok. Terkadang, berbagi cerita dengan orang lain tidak dapat selalu bisa dipercaya, kebanyakan mereka hanya mendengar karena penasaran, bukan karena benar-benar peduli. ya, ketika ada yang benar-benar peduli sekalipun, mau dibagi ke siapa tengah malam seperti ini? Media sosial sejenis twitter dan facebook sudah terlalu ramai, seakan tidak ada privasi, semua diumbar, semua. Tapi sebenarnya tak ada yang salah dengan itu, hanya saja kalau aku ikut mengumbar semua disana, malah akan merugikan diriku sendiri. Ya, disini aku bebas bercerita, hanya membagi dengan orang-orang terdekatku, meski kadang ada yang tak sengaja mampir. Tapi yasudahlah, bercerita disini membuatku jauh lebih lega, berkali-kali lipat. Tidak ada batasan huruf, tidak ada image yang harus dibangun, tidak ada yang memantau dan mengomentari.

Di saat merasa lelah dengan aktifitas hari ini, di saat itulah mood negatif mulai datang. Ketika dihadapkan dengan mood positif dari orang lain, maka mood negatif tersebut akan menjadi-jadi. Begitulah teori psikologi konsumen yang disampaikan Mas Harsus beberapa hari yang lalu. Dan ya, memang benar, malam ini benar-benar terjadi. Maka dari itu, ketika mood negatif mulai datang, yang perlu dilakukan adalah melawannya dengan mood netral. Seperti apa mood netral ? ya seperti yang aku lakukan sekarang, bercerita mengeluarkan semua yang ingin dikeluarkan, membuang perasaan-perasaan yang mengganggu pikiran.

Sekarang jadi mengerti sebabnya kenapa orang yang putus memilih untuk memutuskan juga pertemanan di media sosial. Bukan maksud ingin saling membenci, tapi hanya menjaga perasaan yang tidak cukup kuat untuk menerima kenyataan. Jangankan kenyataan yang sebenarnya, sesuatu yang dicurigai saja sudah mengiris-ngiris, bagaimana kalau seandainya kecurigaan itu benar-benar terjadi ? entahlah...

Yes, You Lie !

Kamis, 07 November 2013

Untuk menegakkan suatu diagnosa bukanlah hal yang mudah, butuh analisis dan kajian yang komprehensif terlebih dahulu. Tapi terlepas dari kajian menurut teori atau pendekatan si x, y, atau z,  kali ini saya ingin menganalisis dengan sangat subjektif mengenai seseorang, ini murni pandangan sendiri dan tidak ada kaitannya dengan ilmu psikologi yang saya pelajari. Hal ini karena kebiasaan dalam mempelajari mengenai perilaku manusia yang menyebabkan saya lebih peka terhadap suatu tingkah laku yang tidak wajar.

Awal cerita, ada seseorang yang mengaku kenal dengan saya di media sosial. Dia mengaku pernah bertemu saya di stasiun UI, pernah bertemu lagi di acara Minang Culture Festival (MCF). Dari acara MCF itulah dia tahu bahwa saya adalah seorang mahasiswa psikologi. Lalu dia juga mengaku pernah membaca blog saya. Siapa dia? kenapa orang dengan follower ribuan tersebut begitu concern dengan saya? Sebelumnya saya berasumsi bahwa ia adalah orang yang memang sedikit tertarik dengan saya karena pernah bertemu sebelumnya, lalu mencari akun media sosial saya di google, sampai pada akhirnya bertemulah blog saya. 

Namun saya merasa risih dengan asumsi tersebut, mengingat bahwa saya tidak sepelupa itu untuk pernah bertemu dengan orang baru di suatu tempat lalu melupakannya begitu saja. Maka saya mencoba mengunpulkan informasi tentang orang ini, dimulai dengan memahami setiap tweetnya, kenapa followernya bisa mencapai angka ribuan, padahal isinya hanya obrolan atau retweet-an saja. Siapa dia ? Apakah ia sepopuler itu ? Saya sengaja tidak menayanyakan asal dan profesinya sekarang, karena saya ingin mencari tahu sendiri. Lalu saya menemukan hal-hal mengenai dunia kedokteran, seperti foto-foto text book mahasiswa kedokteran dan gambar-gambar mengenai medical fact di akun media sosialnya, mengaku bahwa anggota eksekutif dari Ikatan Mahasiswa Kedokteran se-Indonesia. Tapi janggalnya, ia tidak pernah memiliki foto bersama teman-teman sekampus atau foto kegiatan di luar kampus, bahkan untuk sekadar poster acara yang diadakan di kampusnya. Jika hanya foto-foto textbook kedokteran dan gambar mengenai fakta kedokteran, bukankah di google image juga banyak? Beralih ke twitter, setelah ditelisik teman-teman obrolannya di twitter, ternyata hampir semua adalah mahasiswi fakultas kedokteran dari berbagai daerah, seperi FK lampung, Aceh, Banjarmasin, dll yang saya asumsikan mereka hanya berkenalan lewat media sosial. Dengan berkedok sebagai mahasiswa kedokteran dan memiliki follower yang banyak sebagai tanda kepopuleran, ia bisa berkenalan dan akrab dengan mereka bahkan sampai mendapatkan akun personalnya (a.k.a line). Lalu setelah ditelisik lagi, ternyata ribuan follower tersebut didapat dari aplikasi yang membuat orang lain mem-follow akunnya secara otomatis (autofollow). Jumlah tweet yang hampir setiap hari sampai angka belasan bahkan puluhan per harinya membuat kejanggalan baru bagi saya karena merupakan suatu ketidakwajaran bagi seorang mahasiswa kedokteran semester lima memiliki waktu selowong itu untuk nge-tweet yang hanya berisi obrolan tidak penting dengan orang-orang yang baru dikenal. Kejanggalan terakhir yang membuat saya yakin mengenai ketidakjujuran ini adalah informasi akun media sosial yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Bandung, sedangkan SMA dan kuliah di Surabaya, lalu bagaimana saya bisa bertemu di stasiun UI dan di acara paguyuban Minang Culture Festival dengannya ? Sesering itukah dia ke UI? dan mengapa dia bisa datang di acara paguyuban minang tersebut? sedangkan peserta saat itu tidak ada yang berasal dari Surabaya dan dia bukankah keturunan Minang 

Dengan menemui kejanggalan-kejanggalan tersebut, saya akhirnya memiliki kesimpulan bahwa orang ini hanya tidak sengaja sampai pada blog saya karena kata kunci yang dicari di google terdapat di konten blog ini. Mungkin saja awalnya ia hanya ingin mengapresiasi tulisan saya yang ditemuinya di blog ini, namun dengan kebohongan awal yang ia buat membuat saya tidak respect dan menelisik kebohongan demi kebohongan lainnya. Jika suatu pertemanan sudah dimulai dengan kebohongan, maka kebohongan itulah yang nantinya akan mengakhiri hubungan pertemanan itu sendiri. 

Tulisan ini tak lain hanyalah sebagai ajang evaluasi dan refleksi diri, agar dapat diambil pelajarannya baik bagi diri saya sendiri maupun orang yang membaca tulisan ini. Betapa dibencinya sikap bohong, karena hal tersebut merupakan salah satu ciri orang munafik. Pertanyaannya, siapa yag mau berteman dengan orang munafik?