About me

Merindukan Almh. Annisa Azwar

Kamis, 27 Juni 2013

Tiba-tiba aku berfikir, ternyata kematian semudah itu, sesimpel itu. Baru kemaren kita latihan tari payung, baru kemarennya ngobrol via sms, twitter, dan chatting. Baru kemaren ketemu di bikun, baru kemaren nginap di kos Icha atau Icha nginap di kontarakan, baru kemaren pergi rapat lanjut cerita-cerita ngalur ngidul, baru kemaren main truth or dare, baru kemaren karaokean bareng, baru kemaren bantu-bantuin penari berias untuk manggung di fakultas Icha, baru kemaren ini, itu, begitu banyak. Lalu dalam sekejap, 10 Februari 2013, aku melihat sosok Icha terbaring hening di sudut ruang kamar rumah sakit, terbungkus kain kapan dan tetap hening meski semua memusatkan perhatian pada Icha. Kamera, wartawan, keluarga, teman, dan lain-lain. Icha tetap hening. 
Sambil menatap jasad yang begitu tenang, beterbangan bayangan serta kenangan bersama Icha, sikap polos, lembut, baik, sopan, kau begitu sempurna sebagai wanita cha. Setiap melatih adik-adik tari payung, aku sedih, teringat ayunan tangan dan badanmu yang begitu gemulai ketika kita latihan, melihat adik-adik tampil membawakan tari payung, wajahmu semakin merekap masuk ke pikiranku, aku rindu, senyummu yang begitu anggun ketika tampil, ah Icha. Semakin tak kuat jariku menulis cerita untukmu. Aku begitu rindu padamu, ternyata memang, kematian semudah dan sesimpel itu, sesimpel sakit perut, sesimpel tertabrak kereta api, sesimpel jatuh dari mobil, sesimpel terpeleset di kamar mandi, dan sesimpel hal lainnya. Sebentar, lalu kau pergi jauh hilang dari pandangan kami, dan pada akhirnya hanya meninggalkan kenangan. Rindu itu akan selalu ada Cha, selalu ada ketika tiba-tiba teringat wajah atau cerita tentang Icha. Sampai ketemu disana Cha, semoga kita bertemu di tempat terbaik yang telah disediakan Allah untuk kita :)

0 comments:

Posting Komentar