Keluarga
besar saya merupakan keluarga suku minang asli, Sumatera Barat. Di keluarga
besar ayah maupun ibu tidak begitu banyak yang merantau, sehingga dalam memilih
pasangan hidup mereka cenderung memilih orang suku minang asli. Orang tua dari
ibu merupakan orang yang masih menganut kebudayaan dan adat minang yang kental.
Adat minang sangat dijunjung tinggi, mereka meletakkan adat bersanding dengan
agama. Berbeda dengan keluarga besar dari ayah, mereka lebih menekankan ajaran
islam di keluarga, namun tetap memakai adat yang telah diwariskan turun
temurun. Ayah saya pernah merantau ke ibukota Jakarta saat remaja dulu,
sehingga wawasannya lebih luas dan berpikir lebih terbuka. Jika dalam adat
minang, setelah pernikahan biasanya suami tinggal di rumah keluarga isteri,
ayah lebih memilih untuk mengontrak rumah di kota asalnya yaitu kota
Padangpanjang yang kualitas pendidikannya jauh lebih maju dari kota asal ibu,
di kota ini lebih banyak perantau dibandingkan penduduk aslinya, dan kebudayaan
minang disini tidak begitu kental. Bahasa minang disini tidak begitu berlogat
dan tidak memiliki irama khusus.
Ayah
saya seorang pedagang, ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang kadang ikut
membantu ayah berdagang di pasar. Meskipun pekerjaan beliau bukan berlatarkan
pendidikan, ayah tetap menanamkan nilai pentingnya sebuah pendidikan. Sejak
kecil saya diajarkan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari,
sehingga saat balita saya tidak mengerti bahasa minang, memasuki usia sekolah,
saya mulai bergaul dengan teman-teman yang kebanyakan menggunakan bahasa minang
dalam percakapan sehari-hari, begitu pun di rumah saat bermain dengan tetangga,
saya mulai belajar bahasa minang. Saat sekolah dasar, saya sering menggunakan
bahasa Indonesia bercampur bahasa minang, dan lama kelamaan di rumah pun sampai
saat ini kami menggunakan bahasa minang, kecuali kepada adik yang bungsu. Ayah
tidak ingin kami terlalu terpaku pada bahasa daerah, ayah mempersiapkan kami
dari kecil untuk terbuka pada dunia luar, bukan terpaku pada daerah saja.
Contohnya, ketika membeli koran ayah menyarankan untuk membeli koran nasional
dan sangat tidak menganjurkan kami untuk membeli koran daerah. Selain itu ayah
juga sering membagi pengalamannya ketika merantau di Jakarta dulu, tujuannya
agar membuka wawasan dan kemauan kami untuk berkembang. Walaupun saya seorang
anak pedagang dan sering bermain di pasar, saya tidak termasuk anak nakal yang
suka berkeliaran di pasar, saya termasuk anak yang patuh dan lebih memilih
bermain dengan orang tua di rumah sepulang sekolah dibandingkan bermain dengan
teman-teman di luar.
Karena
pengajaran ayah yang seperti itu secara tak disadari saya menjadi miskin akan
pengetahuan adat istiadat minangkabau. Walaupun ayah saya petinggi adat, saya
tidak pernah diajarkan secara khusus nilai-nilai adat tersebut selain yang
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, ketika terdapat suatu acara seperti
pesta pernikahan, batagak pangulu, batimbang tando (melamar), dan acara adat
lainnya saya memang dibawa namun tak diajari istilah-istilah yang terdapat di
dalamnya, saya hanya melihat proses demi prosesnya tanpa dijelaskan mengenai
proses tersebut. Bahkan sampai saat ini saya merasa sangat miskin akan
pengetahuan kebudayaan dan adat daerah sendiri. Sampai saat ini pun saya
bingung bagaimana nanti mewariskan adat dan kebudayaan minang kepada keturunan
saya. Hal yang sedikit membantu saya mengenal lebih dalam adat dan kebudayaan
sendiri adalah pelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau) di sekolah, itupun hanya
sampai kelas tiga SMP.
Selain
itu jarak antara rumah saya dan rumah
nenek kakek yang masih memegang kuat ajaran adat istiadat minang sangat
jauh, kami pun jarang bertemu, sehingga kesempatan untuk banyak belajar adat
minang sangatlah kecil. Selama tinggal di kota Padangpanjang, saya merasa lebih
banyak ditekankan pada ajaran agama islam dibandingkan adat istiadat dan budaya
minang, hal ini dikarenakan saya sering berkunjung dan menginap di rumah nenek
dan kakek dari keluarga ayah yang memang sangat menekankan ajaran islam kepada
anak dan cucunya. Selain itu pendidikan di kota tempat saya tinggal juga
menekankan ajaran agama, karena kota ini merupakan kota serambi mekkah.
Sehingga di lingkungan kampus yang heterogen inipun saya merasa sedikit
canggung, bukan karena kaget karena bahasanya yang berbeda, tapi lebih karena
kondisi lingkungannya, dimana di kota saya umumnya pakaian dan pola tingkahlaku
cenderung seragam karena berlandaskan ajaran agama yang juga seragam. Sampai
saat ini, orang tua menaruh kebebasan untuk saya asalkan kewajiban kepada Tuhan
tak pernah ditinggalkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang tua saya menekankan
pola asuh autoritative dan lebih menanamkan
nilai agama dibanding nilai adat istiadat dan kebudayaan daerah

0 comments:
Posting Komentar