About me

Tugas Psikologi Lintas Budaya : Asal muasal "aku"

Jumat, 28 Juni 2013

    Keluarga besar saya merupakan keluarga suku minang asli, Sumatera Barat. Di keluarga besar ayah maupun ibu tidak begitu banyak yang merantau, sehingga dalam memilih pasangan hidup mereka cenderung memilih orang suku minang asli. Orang tua dari ibu merupakan orang yang masih menganut kebudayaan dan adat minang yang kental. Adat minang sangat dijunjung tinggi, mereka meletakkan adat bersanding dengan agama. Berbeda dengan keluarga besar dari ayah, mereka lebih menekankan ajaran islam di keluarga, namun tetap memakai adat yang telah diwariskan turun temurun. Ayah saya pernah merantau ke ibukota Jakarta saat remaja dulu, sehingga wawasannya lebih luas dan berpikir lebih terbuka. Jika dalam adat minang, setelah pernikahan biasanya suami tinggal di rumah keluarga isteri, ayah lebih memilih untuk mengontrak rumah di kota asalnya yaitu kota Padangpanjang yang kualitas pendidikannya jauh lebih maju dari kota asal ibu,
di kota ini lebih banyak perantau dibandingkan penduduk aslinya, dan kebudayaan minang disini tidak begitu kental. Bahasa minang disini tidak begitu berlogat dan tidak memiliki irama khusus.
Ayah saya seorang pedagang, ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang kadang ikut membantu ayah berdagang di pasar. Meskipun pekerjaan beliau bukan berlatarkan pendidikan, ayah tetap menanamkan nilai pentingnya sebuah pendidikan. Sejak kecil saya diajarkan menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, sehingga saat balita saya tidak mengerti bahasa minang, memasuki usia sekolah, saya mulai bergaul dengan teman-teman yang kebanyakan menggunakan bahasa minang dalam percakapan sehari-hari, begitu pun di rumah saat bermain dengan tetangga, saya mulai belajar bahasa minang. Saat sekolah dasar, saya sering menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa minang, dan lama kelamaan di rumah pun sampai saat ini kami menggunakan bahasa minang, kecuali kepada adik yang bungsu. Ayah tidak ingin kami terlalu terpaku pada bahasa daerah, ayah mempersiapkan kami dari kecil untuk terbuka pada dunia luar, bukan terpaku pada daerah saja. Contohnya, ketika membeli koran ayah menyarankan untuk membeli koran nasional dan sangat tidak menganjurkan kami untuk membeli koran daerah. Selain itu ayah juga sering membagi pengalamannya ketika merantau di Jakarta dulu, tujuannya agar membuka wawasan dan kemauan kami untuk berkembang. Walaupun saya seorang anak pedagang dan sering bermain di pasar, saya tidak termasuk anak nakal yang suka berkeliaran di pasar, saya termasuk anak yang patuh dan lebih memilih bermain dengan orang tua di rumah sepulang sekolah dibandingkan bermain dengan teman-teman di luar.
Karena pengajaran ayah yang seperti itu secara tak disadari saya menjadi miskin akan pengetahuan adat istiadat minangkabau. Walaupun ayah saya petinggi adat, saya tidak pernah diajarkan secara khusus nilai-nilai adat tersebut selain yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, ketika terdapat suatu acara seperti pesta pernikahan, batagak pangulu, batimbang tando (melamar), dan acara adat lainnya saya memang dibawa namun tak diajari istilah-istilah yang terdapat di dalamnya, saya hanya melihat proses demi prosesnya tanpa dijelaskan mengenai proses tersebut. Bahkan sampai saat ini saya merasa sangat miskin akan pengetahuan kebudayaan dan adat daerah sendiri. Sampai saat ini pun saya bingung bagaimana nanti mewariskan adat dan kebudayaan minang kepada keturunan saya. Hal yang sedikit membantu saya mengenal lebih dalam adat dan kebudayaan sendiri adalah pelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau) di sekolah, itupun hanya sampai kelas tiga SMP.

Selain itu jarak antara rumah saya dan rumah  nenek kakek yang masih memegang kuat ajaran adat istiadat minang sangat jauh, kami pun jarang bertemu, sehingga kesempatan untuk banyak belajar adat minang sangatlah kecil. Selama tinggal di kota Padangpanjang, saya merasa lebih banyak ditekankan pada ajaran agama islam dibandingkan adat istiadat dan budaya minang, hal ini dikarenakan saya sering berkunjung dan menginap di rumah nenek dan kakek dari keluarga ayah yang memang sangat menekankan ajaran islam kepada anak dan cucunya. Selain itu pendidikan di kota tempat saya tinggal juga menekankan ajaran agama, karena kota ini merupakan kota serambi mekkah. Sehingga di lingkungan kampus yang heterogen inipun saya merasa sedikit canggung, bukan karena kaget karena bahasanya yang berbeda, tapi lebih karena kondisi lingkungannya, dimana di kota saya umumnya pakaian dan pola tingkahlaku cenderung seragam karena berlandaskan ajaran agama yang juga seragam. Sampai saat ini, orang tua menaruh kebebasan untuk saya asalkan kewajiban kepada Tuhan tak pernah ditinggalkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang tua saya menekankan pola asuh autoritative dan lebih menanamkan nilai agama dibanding nilai adat istiadat dan kebudayaan daerah

0 comments:

Posting Komentar