About me

Penyesuaian Kerja Pada Mahasiswa Freelancer

Selasa, 29 Oktober 2013


 Laporan Hasil Wawancara

Tugas Mata Kuliah Metode Observasi dan Wawancara
Jelsy Triwidya (1106067102)
18 Oktober 2013

 
I.    Pendahuluan
a.    Latar belakang
Bekerja merupakan fokus utama dari aktifitas dan pemikiran seseorang (Roe, 1956). Dengan bekerja, individu bisa bertahan hidup, bisa membiayai kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh Roe (1956) bahwa bekerja merupakan suatu pemuasan kebutuhan dasar manusia. Selain itu, dengan bekerja, diharapkan seseorang mampu meraih kematangan fisik (Dawis&Lofquist, 1984). Di satu sisi, bekerja menambah beban tugas, tetapi di sisi lain bekerja dipandang sebagai sarana untuk pengembangan diri dan aktualisasi diri, serta menambah pendapatan (Olson & hamilton, 19834). Bekerja memberikan arti tersendiri bagi masing-masing individu sehingga perlu dipelajari mengenai hubungan antara individu dengan pekerjaannya dan juga  mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam penyesuaian kerja. Dari penjelasan di atas, maka penulis memilih topik mengenai penyesuaian kerja (work adjusment), khusunya pada mahasiswa yang masih berada pada jenjang perguruan tinggi.
Wawancara dilakukan terhadap seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia semester lima yang sudah bekerja. Pemilihan interwiewee ini didasarkan atas alasan availability dimana ia adalah teman dari interviewer yang memiliki ketersediaan waktu untuk berdiskusi dan wawancara di akhir pekan, mengingat rentang waktu untuk melaksanakan wawancara terbatas. Selain itu ability dari si interviewee juga memadai bagi interviewer dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, yakni mengenai penyesuaian kerja. Ditambah lagi dengan interviewee yang bersedia diwawancara tanpa adanya unsur paksaan sedikitpun.

b.    Tujuan wawancara
Tujuan wawancara adalah untuk melihat apa saja masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia kerja, tingkat kesesuaian individu dengan lingkungan kerja dan pekerjaannya, serta bagaimana proses penyesuaian kerja dari individu tersebut.

c.    Rancangan wawancara
Susunan pertanyaan dibuat berdasarkan teori penyesuaian kerja Dawis dan Lofquist (1984) yang terangkum antara lain, bekerja diartikan sebagai interaksi antara individu (work personality) dan
lingkungan kerja (work environment), lingkungan kerja menuntut tugas-tugas tertentu dan individu membawa kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Individu menuntut kompensasi dan kondisi tertentu dari performa kerja yang telah ditampilkan, titik dimana masing-masing tuntutan (individu dan lingkungan kerja) bertemu dan terpenuhi disebut dengan korespondensi. Penyesuaian kerja merupakan proses dalam menerima dan mempertahankan korespondensi, ditunjukkan dengan kepuasan individu terhadap lingkungan kerja (satisfaction) dan kepuasan lingkungan kerja terhadap performa individu (satisfactoriness). Dampak dari satisfaction dan satisfactoriness adalah lamanya masa jabatan kerja. Masa jabatan kerja dapat diprediksi dari korespondensi work personality individu dengan lingkungan tempat ia bekerja.
Panduan wawancara yang digunakan adalah a moderately schedule interview, yang mana bentuk-bentuk pertanyaan yang dibuat merupakan kombinasi dari pertanyaan-pertanyaan utama dan pertanyaan probing setelahnya. Tipe panduan ini digunakan agar informasi yang diinginkan dapat diperoleh secara lengkap, apabila informasi yang diinginkan belum didapatkan, interviewer masih bisa melakukan probing bebas namun tetap terarah. Wawancara dibuka dengan memperkenalkan diri interviewer terlebih dahulu, kemudian mencoba membangun rapport dengan mengajak rileks dan santai dalam melakukan wawancara ini, lalu interviewer menjelaskan tujuan wawancara. Selanjutnya mulai menanyakan pertanyaan tertutup dan kemudian diiringi pertanyaan-pertanyaan utama dan pertanyaan probing. Pertanyaan utama itu sendiri terdiri dari tiga topik yakni work pesonality, work environment, dan work adjustment. Dari tiga topik utama tersebut terdapat sub topik lagi di bawahnya, disinilah interviewer bisa mendapatkan informasi yang lengkap, menggunakan pertanyaan probing bebas dan tidak terencana sebelumnya namun tetap terarah. Selanjutnya wawancara ditutup dengan menggunakan beberapa teknik, seperti menggunakan kalimat bahwa wawancara akan berakhir, mengungkapkan apresiasi terhadap waktu dan informasi yang diberikan interviewee, menggunakan clearinghouse question, dan menyimpulkan hasil dari interviu tersebut (Cash & Steward, 2008).

Bentuk-bentuk pertanyaan yang digunakan
·           Opening Interview
1.    Siapakah nama lengkap anda?
2.    Berapa umur anda saat ini?
3.    Dimana anda bekerja?
4.    Di posisi apa jabatan anda saat ini?
5.    Sudah berapa lama anda bekerja di perusahaan ini?
·           Body Interview
1.    Work personality (kepribadian individu)
                              i.   Abilities
Apakah anda merasa memiliki minat dan bakat di bidang pekerjaan anda sekarang?
                             ii.   Needs and values
Apa yang paling anda butuhkan dari bekerja?
Apa yang membuat anda tertarik dengan pekerjaan ini ?
                            iii.   Personal style
Apakah anda memiliki banyak teman di tempat anda bekerja?
Seberapa dekat hubungan anda dengan teman di tempat anda bekerja?
Bagaimana anda menyelesaikan masalah jika terjadi konflik dengan teman di tempat anda bekerja?
                           iv.   Adjustment style (flexibility, activeness, reactiveness)
Apakah anda pernah memiliki inisiatif dalam melakukan suatu perubahan pada lingkungan sekitar anda ?
Apa saja hal terberat yang anda hadapi selama bekerja ?
Bagaimana reaksi anda saat hal tersebut terjadi di hadapan anda ?
Bagaimana cara anda menyelesaikan hal tersebut ?
2.    Work environment (lingkungan tempat individu bekerja)
i.    Ability requirements
Menurut anda, apa yang perusahaan harapkan dengan posisi anda saat ini ?
ii.   Reinforcer system
Apa saja kompensasi yang anda dapatkan ?
Berapa jam anda bekerja dalam satu hari ?
iii.  Environment style
Coba ceritakan suasana kerja di tempat anda bekerja!
Apakah anda nyaman dengan kondisi tersebut ?
Hal apa saja yang membuat anda tidak betah berada di lingkungan kerja?
Seberapa besar pengaruhnya terhadap anda?
Apa saja hal yang membuat anda betah berada di lingkungan tempat anda bekerja?
Apa saja peraturan yag diterapkan di tempat anda bekerja ?
3.    Work adjustment (penyesuaian kerja individu)
i.    Satisfaction
Apakah anda merasa cocok dengan posisi yang anda pegang saat ini? coba ceritakan !
Apakah anda merasa lingkungan di sekitar anda cocok dengan kepribadian anda ?
Seberapa besar pengaruh teman-teman tempat anda bekerja bagi anda dan performa kerja anda?
Apakah kompensasi yang diberikan sesuai dengan harapan anda? coba ceritakan !
Apakah kompensasi yang diberikan sesuai dengan beban kerja yang anda dapatkan?
Apa yang anda lakukan jika terjadi ketidaksesuaian kepribadian anda dengan lingkungan anda bekerja ?
Apakah anda pernah datang terlambat ke kantor ? jika ya, kenapa ?
Apakah and pernah absen masuk kerja ? jika ya, kenapa ?
ii.   Satisfactoriness
Apakah anda merasa dapat memenuhi kebutuhan perusahaan ? coba ceritakan !
Apa hal-hal yang membuat anda dipertahankan di perusahaan tempat anda bekerja?
Apakah anda pernah membuat suatu perubahan positif terhadap perusahaan ?
Apakah anda pernah ditawarkan untuk pindah ke posisi yang lebih tinggi ?
Apakah anda pernah mendapat penghargaan dari perusahaan ? jika ya, penghargaan apa ?
iii.  Tenure
Sudah berapa lama anda bekerja di posisi saat ini ?
Apakah anda pernah terfikir untuk pindah ke posisi lain ? jika ya, kenapa ?
Apakah anda pernah terfikir untuk berhenti bekerja ? jika ya, kenapa ?
Apa yang membuat anda bertahan bekerja disini ?
·         Closing Interview
1.    Kita sudah berada di penghujung wawancara, ada lagi yang ingin anda sampaikan ?
2.    Jadi dapat saya simpulkan......
3.    Terimakasih atas ketersediaan waktu dan informasi yang anda berikan, hal ini sangat bermanfaat sekali...
4.    Salam, berjabat tangan.


II.         Data subyek
Nama              : RF
Usia                 : 20 tahun
Jenis kelamin  : Perempuan
Pendidikan      : S1 Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (semester V)
Pekerjaan        : Freelancer tim desainer PT. Badr Interactive
Lama bekerja  : 6 bulan

III.        Hasil Observasi dan wawancara
Interviewee (RF) merupakan mahasiswa semester lima jurusan sistem informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang kini bekerja sebagai freelancer di perusahaan start up PT. Badr Interactive, Depok. Posisi yang dipegangnya saat ini adalah sebagai salah satu tim desainer aplikasi. Analisis penyesuaian kerja dan korespondensi dilihat dari kesesuaian antara work personality dan work environment, yakni ketika kepuasan antara individu dengan lingkungan kerja sama-sama terpenuhi. (Dawis & Lofquist, 1984). Dilihat dari segi individu (work personality), interviewee memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi tuntutan perusahaan, ia mengatakan bahwa perusahaan melihat keunggulannya di hal-hal yang detail, meskipun ia tidak terlalu ahli pada desain keseluruhan, “saya jago detail tapi nggak terlalu jago di desainnya, jadi mereka tetap pertahanin saya karna saya punya something yang orang lain ga punya gitu,” jelasnya. Jika dilihat dari segi kepuasan individu dan lingkungan kerja, bisa dikatakan ia mencapai titik korespondensi dimana baik individu maupun perusahaan sama-sama merasa puas.
Hal utama yang diinginkannya dalam  bekerja adalah untuk memperoleh pengalaman dan ilmu baru yang tidak ia dapatkan di kampus, sehingga ia tidak memiliki masalah dalam hal gaji  ataupun kompensasi yang diberikan. Bahkan ia pernah mendapatkan prestasi sebagai employee of the month (karyawan terbaik) dan akan dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, “iya jadi employee of the month itu fotonya dipajang selama sebulan terus dikasih sertifikat gitu,” terangnya. Dari hal ini terlihat bahwa apa yang ingin diperolehnya terpenuhi sehingga ia dapat memberikan performa yang baik kepada perusahaan, hal ini juga merupakan salah satu indikator korespondensi, kepuasan antara individu dan lingkungan kerja yang saling terpenuhi.
Dalam hubungan sosial di lingkungan kerja, RF hanya dekat dengan teman-teman perempuan dan tidak memiliki inisiatif untuk membuka obrolan dengan karyawan laki-laki selain supervisor. Namun hal ini tidak begitu mengganggunya karena semua orang di kantor sangat baik dan memiliki jiwa humor yang cukup bagus, “orang-orangnya baik-baik semua, kayak nggak ada sikut-menyikut gitu, semua saling ngajarin.” Ujarnnya. Peraturan yang ada pun tidak memberatkan karyawan, suasana di lingkungan kerja begitu santai dan tidak kaku. Meskipun begitu, hal ini tidak menurunkan performa kerja yang ditampilkannya, ia tetap dapat memberikan performa kerja yang baik untuk perusahaan. Ia merasa nyaman dengan lingkungan kerja seperti saat ini, meskipun ia sempat merasa rendah diri karena ada karyawan baru yang jauh lebih ahli di bidang desain, tapi hal ini mampu ia atasi dengan mencoba mendekati orang tersebut sehingga dapat memperoleh lebih banyak ilmu lagi. Selain itu, kepuasan dan kesesuaian ia dalam pekerjaan ini terlihat dengan kehadirannya yang sering tepat waktu dan hanya satu kali absen karena sakit.
Namun, masa kerjanya (tenure) yang sudah berjalan enam bulan terpaksa harus diakhiri di penghujung semester ini, alasannya karena ia memilih untuk lebih fokus di bidang akademis, bukan karena ketidaksesuaiannya dengan bidang ataupun lingkungan pekerjaan tersebut.
Dari hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa interviewee memiliki proses penyesuaian yang baik terhadap lingkungan pekerjaannya, kepuasan interviewee terhadap lingkungan kerja dan kepuasan lingkungan kerja terhadap performa kerja interviewee sama-sama terpenuhi, ia memiliki cara pemecahan masalah yang cukup baik dalam menghadapi ketidaksesusaian yakni dengan melakukan pendekatan dan tidak berburuk sangka. Masa jabatan tersebut akan segera berahir di akhir semester ini, namun bukan karena ketidaksesuaian, tapi lebih karena pilihan untuk lebih fokus pada bidang akademis.

  
IV.       Kesimpulan dan Diskusi
Interwiewee yang dipilih merupakan teman sebaya interviewer (equal) dengan kesamaan umur dan gender, sehingga di awal wawancara kami tidak terlalu susah membangun rapport, komunikasi lebih terbuka karena secara tidak sadar sudah terbangun trust dari pihak interviewee, hal ini bisa jadi disebabkan dengan adanya kesamaan usia, gender, dan hubungan persahabatan sebelumnya, sehingga interviewer pun dapat menggali informasi dengan mudah. Wawancara berjalan cukup santai dan tidak tegang, karena situasi dibentuk sesantai dan senyaman mungkin, yakni dengan memilih tempat di kamar yang jauh dari kebisingan, waktu di sore hari setelah ia selesai mengerjakan tugas, dan dengan jarak yang normal.
Selama proses wawancara berlangsung, interaksi antara interviewer dan interviewee sudah cukup baik dengan membentuk dialog, bukan monolog, masing-masing pihak menyadari peran masing-masing sebagai pihak yang ditanya dan bertanya. Wawancara dibuka dengan cukup baik, yakni dengan memperkenalkan diri interviewer terlebih dahulu (orient the other party). Namun, pertanyaan interaksi level 2 terlalu cepat dilontarkan di awal, contohnya pertanyaan “kira-kira dengan posisi itu, sesuai nggak sama kemampuan yang mbak miliki?” sudah saya lontarkan di awal wawancara. Alur wawancara pada akhirnya menjadi kurang jelas karena terkadang jawaban dari satu pertanyaan sudah mampu menjawab pertanyaan berikutnya, interviewer sering merasa bingung pertanyaan mana lagi yang harus ditanyakan, mana yang belum dan sudah ditanyakan, sehingga terdapat beberapa pertanyaan yang terlontar dua kali, dan melihat daftar pertanyaan yang terlalu lama sehingga membuat interviewee menunggu.
Kesulitan untuk fokus juga menjadi salah satu kendala interviewer mendapat informasi yang mendalam, karna ketika sedang melihat daftar pertanyaan, interviewer tidak mendengarkan jawaban interviewee yang mungkin masih bisa diprobing. Dalam pelaksanaannya, wawancara lebih banyak menggunakan pertanyaan terbuka. Bentuk-bentuk probing yang paling sering dilakukan adalah silent probes dan nudging probes seperti “hmm.hmm ya..ya,” “hmm begitu”. Selain itu, saya juga menggunakan mirror probes seperti “jadi kalau boleh saya simpulkan, mbak cuma awal aja yang merasa rendah, karena dia punya skill yang lebih, dan ternyata setelah didekati emang orangnya baik dan mau ngajarin, begitu ?.” Selain itu, di saat penghujung proses wawancara, saya mengalami kondisi dimana tidak dapat memikirkan apa-apa (blank), bingung dengan pertanyaan atau probing yang harus dilontarkan sehingga wawancara mengalami jeda beberapa menit, dan pertanyaan yang seharusnya telah selesai ditanyakan dan disimpulkan malah dibahas kembali
Dalam pemilihan kata-kata, saya tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan yang seharusnya dihindari dalam sebuah wawancara. Kesalahan yang paling sering saya lakukan adalah The double-barreled inquisition yakni menanyakan pertanyaan yang panjang, sehingga terdapat dua atau lebih pertanyaan di dalamnya yang membuat interviewee tidak fokus terhadap pertanyaan yang diajukan, seperti “mbak merasa seimbang nggak antara beban kerja yang dikasih dengan jam kerja per hari? Berapa jam sih mbak kerja dalam sehari ?.“ Selain itu, pertanyaan yang diajukan terlalu panjang dan tidak sederhana, padahal bisa saja pertanyaan itu diajukan dengan beberapa kalimat, seperti “mbak sekarang di bidang desain ya? Kira-kira mbak punya keinginan gak dipromote ke bidang lain atau ya bisa dibilang kayak mbak ditawarin naik jabatan, kira-kira ada kemungkinan gak ?”
Wawancara ditutup dengan mengucapkan salam dan berjabat tangan. Bisa dibilang wawancara ini berjalan cukup sebentar, namun waktu ini sudah cukup karena saya sudah mendapat informasi yang ingin diperoleh. Saya belajar bahwa untuk menjadi interviewer yang handal memang membutuhkan banyak latihan, secara tidak sadar kita sering terjerumus pada kesalahan-kesalahan yang padahal sebelumnya sudah kita pelajari untuk dihindari. Jangan pernah bosan untuk belajar dari kesalahan, belajar dan terus belajar hingga dapat membentuk keterampilan yang ideal dan sesuai dengan apa yang diinginkan.  



Daftar Pustaka
Dawis, R.V & Lofquist, L.H. (1984). A psychological theory of work adjustment. USA : University Minnesota Press
Olson, D.H. and Hamilton, L.M. 1983. Families: What Make Them Work.Beverly Hills: Sage Publication.
Stewart, C.J & Cash, W.B. (2004). Interviewing (13rd.ed). Singapore : Mc Graw Hill


0 comments:

Posting Komentar