About me

Endless Love

Selasa, 15 November 2011


Hari itu jumat 25 April 2008, ayahku dibawa ke rumah sakit karena panasnya yang tak kunjung turun, panas badannya layaknya panas setrika. Ibuku sangat cemas, ia tak tahu harus melakukan apa, sebelumnya di antara kami tidak ada yang pernah masuk rumah sakit. Kami juga tidak memiliki kendaraan roda empat, sehingga ibu harus menghubungi saudara dulu agar bisa membawa ayah ke rumah sakit. Malam itu juga, ayah langsung dibawa ke rumah sakit. Perasaanku tidak begitu cemas karena aku pikir itu hanya demam biasa dan akan sembuh dengan cepat kalau dibawa ke rumah sakit. Aku terpaksa harus tinggal di rumah, selain kapasitas mobilnya yang tidak memadai, aku juga harus menjaga adikku dan mempersiapkan diri untuk ke sekolah esok pagi. Karena tidak tega meninggalkan aku bersaudara di rumah, akhirnya tanteku membawa kami ke rumahnya dan mengurus segala urusan dan keperluan sekolah untuk esok.

Sepulang dari sekolah, aku langsung buru-buru ke rumah sakit dengan menggunakan sepeda motor, saat memasuki ruangan dimana ayah dirawat, aku sontak kaget, hatiku miris dan rasanya ingin menagis saat itu juga. Aku tak pernah menyangka ayah akan seperti itu, kulitnya menghitam dan matanya memerah. Aku langsung memeluknya erat-erat, ia mencium pipiku dan merangkulku dengan penuh kehangatan, aku tak kuasa menahan tangis, ibuku juga begitu saat melihat kami berpelukan. Setelah itu aku langsung menuju toilet dan menangis sederas-derasnya, aku berdoa dengan penuh kerendahan kepada Tuhan agar ayahku diberikan nikmat kesembuhan. Lalu aku keluar dengan wajah tanpa beban lagi, aku berusaha senyum selalu saat di depan ayah, perasaanku berkata lain, mulai saat itu aku akan selalu berada di samping ayah sampai ia sembuh. Adikku yang berumur lima tahun dibawa dan diurus oleh tanteku di rumahnya di Bukittinggi, sehingga di rumah sakit hanya tinggal aku, ibu, dan ayah. Aku membersihkan badan ayah yang semakin hari makin mengurus, aku membersihkan kelopak matanya yang selalu mengeluarkan kotoran dan air mata karena saking panasnya, aku mengelus keningnya saat ia mulai bisa beristirahat tidur, dan aku membersihkan mukanya yang lama kelamaan sudah mulai cerah. Aku melakukannya sepenuh hati, karena aku merasakan hal yang berbeda saat aku merawatnya. Ibu pun juga begitu, sambil merawat ayah, kami bercerita-cerita, ibu banyak menceritakan tentang ayah yang sebelumnya tak pernah ibu ceritakan, kadang kami menangis, kadang tertawa karena lucunya tingkah ayah, tak jarang ayah mendengar percakapan kami, dan ikut bercerita walau agak sedikit sulit. Aku merasa menjadi anak tunggal di sebuah keluarga kecil penuh kedamaian. Di sela-sela pembicaraan ibu dan ayah selalu menyelipkan pesan-pesannya yang sangat berharga untukku. Mereka mengajarkan aku untuk hidup tenang dan tegar, tak ada yang patut dicemaskan, karena kita tak hidup sendiri, tak ada gunanya merintih, karena cobaan pasti akan selalu datang. Mereka mengajarkan aku tentang kekuatan hidup, mereka mengajarkan aku untuk selalu tegar dan kuat menghadapi setiap lika-liku kehidupan.

Walaupun ayah menderita sakit yang luar biasa, tapi ia tak pernah mengeluh, karena mengeluh tak akan menghilangkan rasa sakit, malah akan membuat perasaan orang yang mendoakannya menjadi sakit. Begitu juga dengan ibu, walaupun ia hanya tidur satu sampai dua jam sehari, ia tetap dengan setia dan sepenuh hati merawat ayah, ia tak penah mengeluh, ia terus merawat dan mengurus semua kebutuhan ayah, ia berdoa sepenuh hati untuk kesembuhan ayah. Ia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan tamu yang datang menjenguk dengan wajah berseri dan sumringah, ia selalu mengambil obat ke apotik sendiri saat obat ayah telah habis, ia selalu pergi membeli makanan ke luar untuk kami walau badannya sedikit teroyong-oyong, ia selalu menyempatkan diri untuk menanyakan kabar adikku yang berada di rumah tanteku. Ia selalu mengajak ayah untuk mengobrol agar ayah tidak merasa bosan berbaring di kasur, dan ia selalu membisikkan ayat-ayat suci al-qur’an ke telinga ayah agar ayah selalu merasa tenang. Saat ibu mulai terlihat lelah, ayah memanggilku untuk mengrus semua kebutuhan ayah, di saat ibu tertidur, aku merawat ayah dengan penuh kehangatan, merasakan rasa cinta yang amat dalam, kami sering berbisik agar ibu tak terbangun lalu kami tertawa, saat ia mulai tertidur, aku mengelus keningnya, aku belajar di sampingnya, karena hari itu adalah hari menjelang Ujian Nasional SMP, saat ia terbangun, ia tersenyum dan menggosok kepalaku yang menandakan agar aku harus selalu rajin belajar, lalu ia berdoa agar aku mendapat yang terbaik, menjadi anak yang shaleha, dan sukses dunia akhirat. Ia bahkan pernah mengatakan kalau ia mungkin tak bisa menjadi wali saat aku menikah nanti, tapi ia berharap aku akan mendapatkan yang terbaik untuk masa depanku. Aku kaget mendengarnya, jantungku berdetak kencang, dan mukaku memerah, tapi aku berusaha selalu tenang dan tegar menghadapi apa yang akan ditakdirkan kedepannya seperti yang pernah ia ajari. Aku tak memberitahunya kepada ibu, karena itu akan membuatnya cemas dan menjadi beban pikiran.

Hari itu, 7 Mei 2008, ayah terpaksa harus dipindahkan ke rumah sakit pusat di Padang karena peralatan kedokteran yang belum terlalu memadai, saat itu adalah hari ketiga aku melaksanakan ujian nasional, masih ada satu hari lagi yang harus aku tempuh, namun aku tak mungkin tinggal di rumah dan tidak berada di samping ayah di saat ia membutuhkan perhatianku, aku dilarang untuk ikut ke Padang karena harus menyelesaikan satu ujian lagi, tapi batinku menyorak lantang, aku harus ikut bersama ayah, aku tak peduli besok akan ujian, aku menangis kepada tanteku yang melarang aku pergi, akhirnya dengan mobil pribadi, aku pergi ke rumah sakit M. Djamil Padang, aku tak berada di mobil ambulance bersama ayah dan ibu. Di tengah perjalanan tiba-tiba mobil ambulance yang sudah jauh meninggalkan kami tersebut berbalik arah, ia tak membunyikan serene lagi, ia tak berjalan sekencang saat mengantarkan ayah tadi, ia melambat, dan aku menyaksikan sendiri dari dalam mobil kalau ambulance itu berbalik dengan lesunya. Aku bisa membaca apa yang terjadi, tidak ada satu alasanpun yang menyebabkan ambulance itu berbalik arah kalau bukan mengantarkan jenazah kembali pada tempatnya. Aku terdiam, semua orang di mobil itu juga ikut terdiam, pamanku menghubungi paman yang lain yang juga berada di ambulance saat itu, tiba-tiba pamanku menyuruh sopir untuk kembali ke Padangpanjang tempat ayah dirawat dulu, tanteku mendekapku erat-erat, semua mengucapkan kalimat Innalillaahiwainnaailaihiraajiuun, lalu berzikir pelan-pelan. Aku tak mengeluarkan setetes air matapun, aku tak menyesali apapun, aku tak marah pada siapapun, dan aku merasakan bahagia, aku merasakan ketenangan yang berbeda. Aku yakin ayah lebih bahagia disana, dari pada merasakan sakit yang tiada henti. Aku memang tak berada di sampingnya saat ia menghembuskan nafas terakhir, tapi aku telah merawatnya dan melakukn yang terbaik di hari-hari terakhir bersamanya. Aku banyak belajar darinya, aku tegar karena dia, aku akan selalu tersenyum karena mengingatnya, aku akan selalu menjaga ibu untuknya.

Saat jenazahnya datang di rumah, ibu langsung memeluk kami erat-erat, hari itu tepat hari ulangtahun kakak laki-laki ku yang ke dua puluh. Kami tak menangis, tapi kami berdoa untuk perjalanan panjang ayah disana. Setelah proses pemakaman, aku dan ibu terlelap panjang karena selama tiga belas hari merawat ayah di rumah sakit, kami jarang tidur. Aku terbangun di sore hari dan melihat berbondong-bondong orang datang ke rumah, dengan setengah sadar aku merasa masih berada di rumah sakit dan rasanya ingin mengambil tisu untuk membersihkan muka ayah, ingin mengelus kening ayah saat ia tertidur, ingin menyuapkan obat ke mulutnya, dan aku ingin bersenda gurau di kala malam sepi berdua bersamanya. Tapi tiba-tiba aku hanya bisa melihat orang-orang yang membawa beras datang beramai-ramai ke rumah dengan manampakkan wajah perihatin. Ternyata mulai saat itu aku tak bisa melihat wajahnya lagi, wajahnya yang tegas, wajahnya di saat kami tertawa berbisik, wajahnya saat menceritakan tentang kehidupan, wajahnya saat memanja pada ibu dan aku. Ia telah pergi jauh meninggalkan kami. Wajahnya saat terakhir terlihat begitu damai, ia seakan-akan mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada Tuhan, karena ia bisa menikmati hari-hari terakhirnya bersama isteri  dan anak yang selalu setia merawatnya dan mengasihinya dengan penuh rasa cinta.

Tiba-tiba aku langsung menoleh ke arah ibu yang masih tertidur pulas, aku bisa melihat wajah letihnya, wajah setia saat ia merawat ayah, aku belajar banyak hal dari ibu, kesetiaannya pada ayah membuat aku menyadari arti cinta. Cinta tak hanya kuat di saat senang, tapi cinta akan bertahan di saat dan kondisi apapun. Cinta tak memandang usia, harta, dan sehat. Di saat kesetiaan itu ada, disanalah terdapat cinta yang amat kuat. Sampai sekarang, cinta ibu selalu tersimpan untuk ayah, ketegaran ayah mengalir pada jiwa ibu sekarang, nasihat dan petuah hidup ayah selalu dijaga oleh ibu. Sejak kepergian ayah, ibu tetap semangat menjalani hari layaknya ayah menjalani setiap harinya dahulu, sambil bekerja, ia menghidupi kami dengan tetap memberi kasih sayang yang amat mendalam kepada kami. Ia akan berusaha sekuat mungkin agar anak-anaknya berhasil mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Di saat ia lemah, ia bangkit sendiri, di saat cobaan datang, ia yang menenangkan dan menguatkan kami, jika orang lain mengatakan tak mungkin, maka ia mengatakan pasti bisa. Dengan semangatnya itu, ia berhasil menyekolahkan keempat anaknya, dan tiga diantaranya sudah menduduki bangku perkuliahan di perguruan tinggi dan dengan usahanya sendiri,ia pun berhasil membangun rumah tempat kami berteduh.

3 comments:

nae_dina:55 mengatakan...

it's so _________ make me wanna cry, there was flood in front of my eyes

Anonim mengatakan...

kalimat yg indah untuk kisah tak tergantikan jels,
miss u.

Jelsy Triwidya mengatakan...

Terimakasih berat for two pretty girls I have :*

Posting Komentar