Oleh :
Jelsy Triwidya/
1106057102
Obedrey Willys Legi/
1106021922
Rully Swarnaputra
/1106011423
Sahda Febi Wilendari/
1106014394
Film Virgin Suicide
mengisahkan tentang tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh kelima anak
perempuan dari Mr. & Mrs.Lisbon. Kelima anak perempuan mereka adalah
Cecilia yang berumur 13 tahun, Lux 14 tahun, Bonnie 15 tahun, Marie 16 tahun,
dan Therese 17 tahun. Tindakan bunuh diri ini pada awalnya dilakukan oleh
Cecilia yang sangat membuat kaget keluarga Lisbon. Beruntung Cecilia masih bisa
diselamatkan dan dapat kembali menjalani aktivitasnya. Namun, tindakan bunuh
diri tersebut masih berlanjut beberapa bulan kemudian yang dilakukan oleh
Cecilia dan disusul keempat anak lainnya dalam satu waktu.
Bunuh diri merupakan
salah satu masalah yang cukup besar dalam kehidupan remaja dari tahun ke tahun,
apalagi di zaman globalisasi seperti sekarang ini. Nelson dan Crawford (1990)
menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kedua terbesar dari kematian
yang dialami oleh remaja berumur 15 hingga 19 tahun (dalam Bilgin,et.al, 2007).
Dari beberapa kasus yang terjadi, tindakan bunuh diri terjadi akibat
permasalahan dengan pasangan, permasalahan dengan lingkungan sosial tempat
remaja menjalani aktivitasnya, dan permasalahan dengan orangtua.
Dalam film Virgin
Suicide tindakan bunuh diri pada awalnya dilakukan oleh Cecilia yang
akhirnya meninggal pada percobaan bunuh diri untuk yang kedua kalinya. Cecilia termasuk anak yang pendiam, tidak suka keramaian, anti sosial, dan
terkesan memendam semua yang dia rasakan. Dalam film ini kami kurang
mendapatkan informasi masalah apa yang dihadapi oleh Cecilia. Psikiater yang
menanganinya juga mengatakan sebenarnya Cecilia tidak begitu punya keinginan
untuk bunuh diri. Tapi, asumsi kami adalah Cecilia mengalami depresi karena
lingkungan keluarga yang terlalu mengekang dia dan membatasi interaksi
sosialnya dengan teman-teman sebayanya yang seharusnya interaksi tersebut
menjadi sebuah kebutuhan bagi seorang anak yang menginjak usia remaja.
Kematian Cesilia mengakibatkan
keempat saudara perempuannya mengalami posttraumatic syndrome dengan
gejala susah tidur, mulai kehilangan energi, dan menghindar dari keramaian
seperti yang mereka lakukan di sekolah.
Dalam penelitian Ric (1992, dalam Kari & Atle 2005), saudara yang ditinggal
mati oleh karena bunuh diri mengalami perasaan shock dan diikuti oleh
perasaan marah ,kerentanan ,sedih , kesepian , dan depresi. Mereka juga
mengalami kesedihan yang lebih mendalam dan lama dibandingkan dengan kematian
saudara karena sakit. Davies (1995, dalam Kari & Atle 2005) menambahkan hal
ini juga akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari remaja tersebut, sehingga
dibutuhkan dukungan dari lingkungan sosial dan keluarga. Semenjak Lux jatuh
cinta pada seorang murid baru di sekolahnya, kehidupan mereka bersaudara mulai
membaik dan mulai merasakan kesenangan seperti remaja seusianya walaupun masih
di bawah pengawasan ketat kedua orang tua mereka. Hal ini terlihat ketika Mrs.
Lisbon memperbolehkan keempat anaknya untuk datang ke pesta di sekolah mereka
ditemani oleh masing-masing pasangannya dimana sebelumnya Mrs. Lisbon membatasi
pergaulan anak-anaknya dengan dunia luar.
Namun, terjadi hal
berbeda setelah pesta tersebut karena Lux pulang pagi hari sendirian dimana
malamnya dia bersama teman laki-lakinya. Setelah kejadian tersebut, Mrs. Lisbon
tidak memperbolehkan anaknya keluar rumah bahkan untuk pergi ke sekolah. Mereka
hanya dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia
luar. Tindakan Mrs. Lisbon yang mengekang pergaulan anak-anaknya dan membatasi
mereka dengan dunia luar ini mungkin bisa menjadi salah satu penyebab
dari tindakan bunuh diri yang dilakukan anak-anaknya. Van Orden et. al. (2010,
dalam Kring et. al., 2013) mengemukakan bahwa



