Next Coming >> Commitee of Asia Pasific Student Forum - Universal Youth Alliance 2013 .........
Selasa, 29 Oktober 2013
Posted by
Jelsy Triwidya
at
23.13
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Penyesuaian Kerja Pada Mahasiswa Freelancer
Laporan Hasil Wawancara
I. Pendahuluan
a. Latar belakang
Bekerja merupakan fokus utama dari aktifitas dan pemikiran seseorang (Roe, 1956). Dengan bekerja, individu bisa bertahan hidup, bisa membiayai kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh Roe (1956) bahwa bekerja merupakan suatu pemuasan kebutuhan dasar manusia. Selain itu, dengan bekerja, diharapkan seseorang mampu meraih kematangan fisik (Dawis&Lofquist, 1984). Di satu sisi, bekerja menambah beban tugas, tetapi di sisi lain bekerja dipandang sebagai sarana untuk pengembangan diri dan aktualisasi diri, serta menambah pendapatan (Olson & hamilton, 19834). Bekerja memberikan arti tersendiri bagi masing-masing individu sehingga perlu dipelajari mengenai hubungan antara individu dengan pekerjaannya dan juga mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam penyesuaian kerja. Dari penjelasan di atas, maka penulis memilih topik mengenai penyesuaian kerja (work adjusment), khusunya pada mahasiswa yang masih berada pada jenjang perguruan tinggi.
Wawancara dilakukan terhadap seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia semester lima yang sudah bekerja. Pemilihan interwiewee ini didasarkan atas alasan availability dimana ia adalah teman dari interviewer yang memiliki ketersediaan waktu untuk berdiskusi dan wawancara di akhir pekan, mengingat rentang waktu untuk melaksanakan wawancara terbatas. Selain itu ability dari si interviewee juga memadai bagi interviewer dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan, yakni mengenai penyesuaian kerja. Ditambah lagi dengan interviewee yang bersedia diwawancara tanpa adanya unsur paksaan sedikitpun.
b. Tujuan wawancara
Tujuan wawancara adalah untuk melihat apa saja masalah-masalah yang dihadapi dalam dunia kerja, tingkat kesesuaian individu dengan lingkungan kerja dan pekerjaannya, serta bagaimana proses penyesuaian kerja dari individu tersebut.
c. Rancangan wawancara
Susunan pertanyaan dibuat berdasarkan teori penyesuaian kerja Dawis dan Lofquist (1984) yang terangkum antara lain, bekerja diartikan sebagai interaksi antara individu (work personality) dan
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.57
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Analisis Film Virgin Suicide
Oleh :
Jelsy Triwidya/
1106057102
Obedrey Willys Legi/
1106021922
Rully Swarnaputra
/1106011423
Sahda Febi Wilendari/
1106014394
Film Virgin Suicide
mengisahkan tentang tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh kelima anak
perempuan dari Mr. & Mrs.Lisbon. Kelima anak perempuan mereka adalah
Cecilia yang berumur 13 tahun, Lux 14 tahun, Bonnie 15 tahun, Marie 16 tahun,
dan Therese 17 tahun. Tindakan bunuh diri ini pada awalnya dilakukan oleh
Cecilia yang sangat membuat kaget keluarga Lisbon. Beruntung Cecilia masih bisa
diselamatkan dan dapat kembali menjalani aktivitasnya. Namun, tindakan bunuh
diri tersebut masih berlanjut beberapa bulan kemudian yang dilakukan oleh
Cecilia dan disusul keempat anak lainnya dalam satu waktu.
Bunuh diri merupakan
salah satu masalah yang cukup besar dalam kehidupan remaja dari tahun ke tahun,
apalagi di zaman globalisasi seperti sekarang ini. Nelson dan Crawford (1990)
menyebutkan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kedua terbesar dari kematian
yang dialami oleh remaja berumur 15 hingga 19 tahun (dalam Bilgin,et.al, 2007).
Dari beberapa kasus yang terjadi, tindakan bunuh diri terjadi akibat
permasalahan dengan pasangan, permasalahan dengan lingkungan sosial tempat
remaja menjalani aktivitasnya, dan permasalahan dengan orangtua.
Dalam film Virgin
Suicide tindakan bunuh diri pada awalnya dilakukan oleh Cecilia yang
akhirnya meninggal pada percobaan bunuh diri untuk yang kedua kalinya. Cecilia termasuk anak yang pendiam, tidak suka keramaian, anti sosial, dan
terkesan memendam semua yang dia rasakan. Dalam film ini kami kurang
mendapatkan informasi masalah apa yang dihadapi oleh Cecilia. Psikiater yang
menanganinya juga mengatakan sebenarnya Cecilia tidak begitu punya keinginan
untuk bunuh diri. Tapi, asumsi kami adalah Cecilia mengalami depresi karena
lingkungan keluarga yang terlalu mengekang dia dan membatasi interaksi
sosialnya dengan teman-teman sebayanya yang seharusnya interaksi tersebut
menjadi sebuah kebutuhan bagi seorang anak yang menginjak usia remaja.
Kematian Cesilia mengakibatkan
keempat saudara perempuannya mengalami posttraumatic syndrome dengan
gejala susah tidur, mulai kehilangan energi, dan menghindar dari keramaian
seperti yang mereka lakukan di sekolah.
Dalam penelitian Ric (1992, dalam Kari & Atle 2005), saudara yang ditinggal
mati oleh karena bunuh diri mengalami perasaan shock dan diikuti oleh
perasaan marah ,kerentanan ,sedih , kesepian , dan depresi. Mereka juga
mengalami kesedihan yang lebih mendalam dan lama dibandingkan dengan kematian
saudara karena sakit. Davies (1995, dalam Kari & Atle 2005) menambahkan hal
ini juga akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari remaja tersebut, sehingga
dibutuhkan dukungan dari lingkungan sosial dan keluarga. Semenjak Lux jatuh
cinta pada seorang murid baru di sekolahnya, kehidupan mereka bersaudara mulai
membaik dan mulai merasakan kesenangan seperti remaja seusianya walaupun masih
di bawah pengawasan ketat kedua orang tua mereka. Hal ini terlihat ketika Mrs.
Lisbon memperbolehkan keempat anaknya untuk datang ke pesta di sekolah mereka
ditemani oleh masing-masing pasangannya dimana sebelumnya Mrs. Lisbon membatasi
pergaulan anak-anaknya dengan dunia luar.
Namun, terjadi hal
berbeda setelah pesta tersebut karena Lux pulang pagi hari sendirian dimana
malamnya dia bersama teman laki-lakinya. Setelah kejadian tersebut, Mrs. Lisbon
tidak memperbolehkan anaknya keluar rumah bahkan untuk pergi ke sekolah. Mereka
hanya dikurung di dalam kamar dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia
luar. Tindakan Mrs. Lisbon yang mengekang pergaulan anak-anaknya dan membatasi
mereka dengan dunia luar ini mungkin bisa menjadi salah satu penyebab
dari tindakan bunuh diri yang dilakukan anak-anaknya. Van Orden et. al. (2010,
dalam Kring et. al., 2013) mengemukakan bahwa
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.32
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Cara Strawberry Cafe Menaikkan Mood Pengunjung
Esai
Psikologi Konsumen Tahun 2013
Oleh
: Jelsy Triwidya (1106057102)
Keywords: belanja, strawberry cafe, mood
Word counts: 613
Strawberry
cafe merupakan kafe yang menyasar segmen keluarga dan umumnya para kaum muda
yang enerjik, dinamis dan terus mencari sajian makanan yang tidak hanya lezat
namun juga unik, harga terjangkau, dan dilengkapi dengan lokasi yang nyaman sebagai tempat “nongkrong bareng”. Sampai saat ini strawberry cafe dapat dikatakan menjadi pemain utama di
bidang kafe bersegmen anak muda dengan brand awareness yang sangat kuat dan berbagai prestasi
termasuk diliput media dan tercatat di buku rekor Indonesia. Beberapa
kebanggaannya adalah terpilih menjadi wisata kuliner terfavorit di trans tv dan
menu surabi spesialnya dipesan oleh istana Presiden RI. (strawberrycafe.webs.com).
Kafe yang terletak di Jalan Gandaria 1 Jakarta Selatan ini juga menyediakan 400 permainan berjenis boardgames, sehingga pelanggan bisa
bermain sambil menunggu hidangan yang dipesan. Keunggulannya dalam menu, harga,
tempat dan fasilitas menjadikan tempat ini sering dikunjungi bahkan bukan hanya
untuk berbelanja saja, melainkan untuk meningkatkan mood yang sedang mengalami penurunan akibat aktifitas sehari-hari,
dan untuk memenuhi kepuasan berbelanja.
Menurut KBBI,
belanja berarti membeli di toko, kedai, dan sebagainya. Belanja memiliki nilai
yang berbeda-beda bagi setiap orang. Nilai itu sendiri menurut Holbrook (1986,
dalam Richard, et.al, 2007) melibatkan interaksi antara konsumen dengan produk
yang terkait bukan hanya pada objek tersebut, tapi juga pengalaman berbelanja
di dalamnya. Ada yang menilai tindakan berbelanja sebagai pemenuhan kebutuhan
dan ada yang menilai berbelanja sebagai suatu bentuk hedonis, yakni untuk
menunjukkan kepuasan pribadi dan ekspresi diri yang berkaitan dengan pengalaman
berbelanja (Babin et al. , 1994; Babin & Attaway, 2000, dalam Richard,
et.al , 2007). Kepuasan pribadi yang sering dijadikan nilai bagi seseorang
dalam berbelanja inilah yang menyebabkan munculnya perilaku shopcoholic, yakni
Posted by
Jelsy Triwidya
at
22.28
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Everyone has a purpose
Selasa, 17 September 2013
In life, you will realize there is a role for everyone you meet. Some will test you, some will use you, some will love you and some will teach you. But the ones who are truly important are the ones who bring out the best in you. They are the amazing people who remind you why it's worth it
Posted by
Jelsy Triwidya
at
23.25
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Dress Accordingly !
Cara kita menampilkan diri memiliki efek yang cukup besar pada cara kita bertindak. Kesimpulan dari penemuan David Mc.Raney mengatakan ketika kita berpakaian seperti seorang yang cerdas, maka kita akan berfikir bahwa kita cerdas dan sebaliknya. Meski hal ini bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana kita berfikir mengenai diri sendiri, jangan pernah berfikir kalau pakaian yang kita kenakan tidak berpengaruh terhadap pekerjaan dan performa
Sumber
Dachis, A. (2013). Your Clothing can Affect Your Actions, So Dress Accordingly. Diakses pada 18 September 2013 dari http://lifehacker.com/your-clothing-can-affect-your-actions-so-dress-accordi-1325778173
Posted by
Jelsy Triwidya
at
23.01
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Be confident as well !
percaya pada diri sendiri menjadi keharusan, kah?
Ini adalah pertanyaanku hampir setiap malam saat sebelum tidur. Di saat instropeksi diri, di saat kita menyerap dan mengevaluasi semua hal positif dan negatif yang didapat setiap hari, di saat kita mau merubah diri menjadi lebih baik, di saat itulah pertanyaanku ini perlahan mulai terjawab.
Saat diamanahkan menjadi wakil ketua pelaksana salah satu acara fakultas semester 2 dulu, saya tidak percaya pada diri sendiri, saya tidak total bekerja, saya takut orang tidak mempercayai saya, saya takut acara nantinya gagal, saya terlalu memikirkan pandangan orang, akibatnya alur koordinasi menjadi tidak jelas, di bawah kontrol saya sebagai koordinator lapangan saat itu, acara sangat biasa saja, antar panitia juga tidak begitu kompak. Siapa yang patut disalahkan? Yap, saya yang tidak percaya diri dalam bersikap dan bertindak. Namun tetap tak kunjung mengevaluasi diri, saya menolak menjadi penanggung jawab acara salah satu acara fakultas di semester 3 lalu, karena masih belum percaya diri dan merasa beban itu terlalu berat. Setelah itu saya tidak pernah ditawari lagi menjadi panitia inti/BPH di acara fakultas. Salah siapa ? Yap tentunya bukan salah orang lain. Saat diamanahkan menjadi ketua pelaksana/ Project Officer acara baru dari paguyuban minang di kampus, saya masih ragu, masih kurang percaya diri dalam memimpin, namun tetap optimis acara itu akan sukses di bawah kendali saya. Setiap feedback positif dan negatif menjadi bahan evaluasi setiap malam selama proses persiapan acara. Saya berpikir saya bisa, total dalam bekerja, dukungan orang-orang terdekat juga menjadi kekuatan waktu itu, Alhamdulillah di akhir acara saya mendapat lebih banyak feedback positif dibanding negatif.
Penilaian terhadap diri sendiri, kritik dan saran dari orang lain, menyerap ilmu baik dari lingkungan, saya rasa cukup untuk mengevaluasi dan mengupgrade diri menjadi lebih baik. Saya kembali ditawari menjadi BPH sebagai penanggung jawab acara PSAF KAMABA 2013 (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas Kegiatan Mahasiswa Baru) Fakultas Psikologi. Tidak ada alasan lagi untuk tidak percaya diri. Saat kita meyakini bahwa diri kita hebat, maka ia akan menjadi hebat. Alhamdulillah saat itu saya mendapat banyak feedback positif sebagai Stage Manager di hari PSAF. Efeknya tidak main-main, menjalar ke ranah lain, seperti akademik dan sosial.
Untuk ranah akademik misalnya, saya menjadi lebih percaya diri di kelas, saya mendapat tawaran menyusun naskah buku ajar untuk mata kuliah Individu Kebudayaan Masyarakat, dipilih menjadi ketua kelompok, menjadi perwakilan untuk mengikuti workshop, mendapat feedback positif untuk peragaan interviewing, dll. Hal-hal kecil seperti ini mungkin menjadi hal yang biasa bagi orang lain, namun menjadi luar biasa bagi saya yang dulunya tidak percaya diri bekerja dalam kelompok dan cenderung mengikuti saja pendapat orang lain.
Untuk hal sosial, saya menjadi tidak tergantung pada satu kelompok saja, saya menjadi lebih fleksibel dan berbaur dengan banyak kelompok. Tentunya menjadi lebih dikenal di lingkungan kampus.
Untuk hal pribadi, saya menjadi lebih terstruktur dan terencana, setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya mengecat kamar dan mendekorasinya senyaman mungkin, membeli semua pelengkapan yang mendukung perencanaan dan kenyamanan belajar, pembagian waktu dan prioritas belajar menjadi semakin baik, saya menjadi lebih semangat dan tidak pernah telat ke kampus, membawa diri yang penuh semangat dan bisa belajar di lingkungan akademik dan sosial yang nyaman juga tentunya.
Betapa, evaluasi diri dan menjadi percaya pada diri sendiri sangat penting untuk membuat suatu perubahan besar dalam hidup seseorang. Semoga apa yang telah saya dapat, bisa terus konsisten dan menjalar dalam kehidupan selanjutnya. Mudah-mudahan hal ini bisa mendukung saya dalam membuat terobosan-terobosan yang lebih besar lagi..
Masih tidak mau percaya pada diri sendiri ? :)
Ini adalah pertanyaanku hampir setiap malam saat sebelum tidur. Di saat instropeksi diri, di saat kita menyerap dan mengevaluasi semua hal positif dan negatif yang didapat setiap hari, di saat kita mau merubah diri menjadi lebih baik, di saat itulah pertanyaanku ini perlahan mulai terjawab.
Saat diamanahkan menjadi wakil ketua pelaksana salah satu acara fakultas semester 2 dulu, saya tidak percaya pada diri sendiri, saya tidak total bekerja, saya takut orang tidak mempercayai saya, saya takut acara nantinya gagal, saya terlalu memikirkan pandangan orang, akibatnya alur koordinasi menjadi tidak jelas, di bawah kontrol saya sebagai koordinator lapangan saat itu, acara sangat biasa saja, antar panitia juga tidak begitu kompak. Siapa yang patut disalahkan? Yap, saya yang tidak percaya diri dalam bersikap dan bertindak. Namun tetap tak kunjung mengevaluasi diri, saya menolak menjadi penanggung jawab acara salah satu acara fakultas di semester 3 lalu, karena masih belum percaya diri dan merasa beban itu terlalu berat. Setelah itu saya tidak pernah ditawari lagi menjadi panitia inti/BPH di acara fakultas. Salah siapa ? Yap tentunya bukan salah orang lain. Saat diamanahkan menjadi ketua pelaksana/ Project Officer acara baru dari paguyuban minang di kampus, saya masih ragu, masih kurang percaya diri dalam memimpin, namun tetap optimis acara itu akan sukses di bawah kendali saya. Setiap feedback positif dan negatif menjadi bahan evaluasi setiap malam selama proses persiapan acara. Saya berpikir saya bisa, total dalam bekerja, dukungan orang-orang terdekat juga menjadi kekuatan waktu itu, Alhamdulillah di akhir acara saya mendapat lebih banyak feedback positif dibanding negatif.
Penilaian terhadap diri sendiri, kritik dan saran dari orang lain, menyerap ilmu baik dari lingkungan, saya rasa cukup untuk mengevaluasi dan mengupgrade diri menjadi lebih baik. Saya kembali ditawari menjadi BPH sebagai penanggung jawab acara PSAF KAMABA 2013 (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas Kegiatan Mahasiswa Baru) Fakultas Psikologi. Tidak ada alasan lagi untuk tidak percaya diri. Saat kita meyakini bahwa diri kita hebat, maka ia akan menjadi hebat. Alhamdulillah saat itu saya mendapat banyak feedback positif sebagai Stage Manager di hari PSAF. Efeknya tidak main-main, menjalar ke ranah lain, seperti akademik dan sosial.
Untuk ranah akademik misalnya, saya menjadi lebih percaya diri di kelas, saya mendapat tawaran menyusun naskah buku ajar untuk mata kuliah Individu Kebudayaan Masyarakat, dipilih menjadi ketua kelompok, menjadi perwakilan untuk mengikuti workshop, mendapat feedback positif untuk peragaan interviewing, dll. Hal-hal kecil seperti ini mungkin menjadi hal yang biasa bagi orang lain, namun menjadi luar biasa bagi saya yang dulunya tidak percaya diri bekerja dalam kelompok dan cenderung mengikuti saja pendapat orang lain.
Untuk hal sosial, saya menjadi tidak tergantung pada satu kelompok saja, saya menjadi lebih fleksibel dan berbaur dengan banyak kelompok. Tentunya menjadi lebih dikenal di lingkungan kampus.
Untuk hal pribadi, saya menjadi lebih terstruktur dan terencana, setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya mengecat kamar dan mendekorasinya senyaman mungkin, membeli semua pelengkapan yang mendukung perencanaan dan kenyamanan belajar, pembagian waktu dan prioritas belajar menjadi semakin baik, saya menjadi lebih semangat dan tidak pernah telat ke kampus, membawa diri yang penuh semangat dan bisa belajar di lingkungan akademik dan sosial yang nyaman juga tentunya.
Betapa, evaluasi diri dan menjadi percaya pada diri sendiri sangat penting untuk membuat suatu perubahan besar dalam hidup seseorang. Semoga apa yang telah saya dapat, bisa terus konsisten dan menjalar dalam kehidupan selanjutnya. Mudah-mudahan hal ini bisa mendukung saya dalam membuat terobosan-terobosan yang lebih besar lagi..
Masih tidak mau percaya pada diri sendiri ? :)
Posted by
Jelsy Triwidya
at
05.44
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kamis, 18 Juli 2013
I'm falling in love (again) ...
I hope I could fall for You everyday
As same as I feel today
I Love You, Allah
I hope I could fall for You everyday
As same as I feel today
I Love You, Allah
Posted by
Jelsy Triwidya
at
10.11
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Tugas Psikologi Lintas Budaya : Asal muasal "aku"
Jumat, 28 Juni 2013
Keluarga
besar saya merupakan keluarga suku minang asli, Sumatera Barat. Di keluarga
besar ayah maupun ibu tidak begitu banyak yang merantau, sehingga dalam memilih
pasangan hidup mereka cenderung memilih orang suku minang asli. Orang tua dari
ibu merupakan orang yang masih menganut kebudayaan dan adat minang yang kental.
Adat minang sangat dijunjung tinggi, mereka meletakkan adat bersanding dengan
agama. Berbeda dengan keluarga besar dari ayah, mereka lebih menekankan ajaran
islam di keluarga, namun tetap memakai adat yang telah diwariskan turun
temurun. Ayah saya pernah merantau ke ibukota Jakarta saat remaja dulu,
sehingga wawasannya lebih luas dan berpikir lebih terbuka. Jika dalam adat
minang, setelah pernikahan biasanya suami tinggal di rumah keluarga isteri,
ayah lebih memilih untuk mengontrak rumah di kota asalnya yaitu kota
Padangpanjang yang kualitas pendidikannya jauh lebih maju dari kota asal ibu,
Posted by
Jelsy Triwidya
at
01.31
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Merindukan Almh. Annisa Azwar
Kamis, 27 Juni 2013
Tiba-tiba aku berfikir, ternyata kematian semudah itu, sesimpel itu. Baru kemaren kita latihan tari payung, baru kemarennya ngobrol via sms, twitter, dan chatting. Baru kemaren ketemu di bikun, baru kemaren nginap di kos Icha atau Icha nginap di kontarakan, baru kemaren pergi rapat lanjut cerita-cerita ngalur ngidul, baru kemaren main truth or dare, baru kemaren karaokean bareng, baru kemaren bantu-bantuin penari berias untuk manggung di fakultas Icha, baru kemaren ini, itu, begitu banyak. Lalu dalam sekejap, 10 Februari 2013, aku melihat sosok Icha terbaring hening di sudut ruang kamar rumah sakit, terbungkus kain kapan dan tetap hening meski semua memusatkan perhatian pada Icha. Kamera, wartawan, keluarga, teman, dan lain-lain. Icha tetap hening.
Sambil menatap jasad yang begitu tenang, beterbangan bayangan serta kenangan bersama Icha, sikap polos, lembut, baik, sopan, kau begitu sempurna sebagai wanita cha. Setiap melatih adik-adik tari payung, aku sedih, teringat ayunan tangan dan badanmu yang begitu gemulai ketika kita latihan, melihat adik-adik tampil membawakan tari payung, wajahmu semakin merekap masuk ke pikiranku, aku rindu, senyummu yang begitu anggun ketika tampil, ah Icha. Semakin tak kuat jariku menulis cerita untukmu. Aku begitu rindu padamu, ternyata memang, kematian semudah dan sesimpel itu, sesimpel sakit perut, sesimpel tertabrak kereta api, sesimpel jatuh dari mobil, sesimpel terpeleset di kamar mandi, dan sesimpel hal lainnya. Sebentar, lalu kau pergi jauh hilang dari pandangan kami, dan pada akhirnya hanya meninggalkan kenangan. Rindu itu akan selalu ada Cha, selalu ada ketika tiba-tiba teringat wajah atau cerita tentang Icha. Sampai ketemu disana Cha, semoga kita bertemu di tempat terbaik yang telah disediakan Allah untuk kita :)
Posted by
Jelsy Triwidya
at
13.47
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Pacar tidak sama dengan suami
Perihatin, kenapa kebanyakan wanita berkerudung memamerkan foto-foto tanpa kerudung kepada pacarnya. Belum tentu jadi suami juga :)
*observasi dari 9 orang teman yang pacaran
*observasi dari 9 orang teman yang pacaran
Posted by
Jelsy Triwidya
at
12.27
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Challenge Your Self
Selasa, 11 Juni 2013
When
I’m confused with all those life, the most important to do is repairing. Trying
to repair all mistakes before and avoid apathy. Trying to fulfill all of
needs, need for achievement, for powerment, and for affiliation. First, need for
achievement, hmm could be one of the biggest hope to be invited to international
conference to present paper and essay. Second, need for empowerment? I push my
effort to be a true leader, mainly for my own self first then for others. Thing
mostly to do is learning, not imitation! take the lessons from every single
experiences I got. Challenge my own self with all environment demand which
opposite with my characteristic and personality. Not all streams must be
followed, right? Sometimes, request from
inner self isn’t always to be fulfilled, the more important is to be rejected.
Challenge the self and get the lesson from it! I’ve known my characters and
personality. I know how people think about me, so I already have self-concept, when not satisfied, it means I get survival
anxiety and it’s great which is this feeling improve the individual to change,
reject what things requested by inner self, No excuse!! Never ever let learning
anxiety decrease the intention to change. The basic tendency can be changed by
character adaptation, its like
biological bases could be change by adding positive external influence.
Last, need for affiliation easily got from the all of kindness on own self,
agreeableness will bring me and you to the tight and large social relationship. All of us need those three basic needs, the
differences are based on own target, effort and the way we complete that.
Sumangaik for me, for all of us !! J
Posted by
Jelsy Triwidya
at
13.19
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Mantan
Minggu, 30 Desember 2012
""Mantan.Bila digabung dengan pacar jadi mantan pacar.Ada banyak padanan kata mantan.Misalnya tadi,mantan pacar.Ada juga mantan bupati,mantan camat, bahkan ada mantan suami,mantan istri. Ada juga yang tidak pas bila dipadukan dengan kata lain. Tidak ada yang namanya mantan kawan,mantan sahabat, mantan ayah,mantan ibu, mantan guru. Disini kau bisa mengerti : Arti cinta sebenarnya. Tentu bila kau mau berpikir". Ini hanya menurut saya. Bukan Hadits bukan pula Firman Tuhan. Kebenarannya tidak mutlak, tetapi kesalahannya relatif. Setidaknya saya sudah berpikir sebelum menulis stat ini." by : asraWijayakarena cinta sebenarnya tidak akan menjadi mantan
I like it#okesip -Detrisno, 2012.
http://asrawijaya10.blogspot.com/2012/12/mantan.html
Posted by
Jelsy Triwidya
at
10.08
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Rindu
Minggu, 01 April 2012
Sudah lama kalian tidak mengirimkan saya ini teman. Betapa rindu untuk membaca pesan-pesan singkat penyejuk kalbu. Pagi ini ku terjaga dan mendapati pesan singkat yang menggetarkan hati
"Allah menitipkan cintaNya ketika kita bangun pagi ini, ketika kita membasuh muka dnegan air wudhu dan kita dapati bahwa Allah telah memberi kita kesempatan satu hari lagi untuk kembali menghias catatan amal kita, maka tersenyumlah, dan berjanjilah kita akan membuat segalanya lebih baik hari ini"
Sungguh aku terjaga dalam kelalaian.
"Allah menitipkan cintaNya ketika kita bangun pagi ini, ketika kita membasuh muka dnegan air wudhu dan kita dapati bahwa Allah telah memberi kita kesempatan satu hari lagi untuk kembali menghias catatan amal kita, maka tersenyumlah, dan berjanjilah kita akan membuat segalanya lebih baik hari ini"
Sungguh aku terjaga dalam kelalaian.
Posted by
Jelsy Triwidya
at
04.34
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Let it flow
Kamis, 15 Maret 2012
Sungai itu terlalu dalam, dan aku ikut terhanyut di dalamnya
Angin itu terlalu kencang, dan aku ikut terbang di atasnya
Posted by
Jelsy Triwidya
at
04.00
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Yang terabaikan
Minggu, 11 Maret 2012
Dua sosok yang mungkin terabaikan di lingkungannya, ya, itu temanku di kampus, berjalan dengan akrabnya. Satu, sosok ketabahan dan kegigihan seorang tuna netra. Prinsipnya sekeras batu, mandiri dan tak ingin dikasihani. Usahanya begitu keras, kegigihan dan kesabaran tergambar jelas di raut wajahnya. Meski tak mampu melihat senyuman namun selalu tersenyum, seakan begitu mengerti arti sebuah senyuman. Dua, sosok aneh (begitu orang menyebutnya) namun cerdas, ia seakan memiliki dunia dan pemikiran sendiri yang begitu sulit ditebak, senantiasa membimbing dengan menggandeng tangan si tuna netra. Terlihat seperti seorang kawan yang setia. Tulus, itulah kata pertama yang terlintas saat melihatnya. Malu, tidak ada kata itu untukku, begitu yang aku baca dalam hatinya. Mereka bergandengan dengan erat dan tak lupa menebar senyuman, mata yang memandang mengucapkan kata kagum kepada hati yang merasa. Bibirku perlahan melengkung sebagai pertanda kekaguman. Masih terekam jelas pemandangan di siang itu, saat menunggu bis di halte stasiun. Senin, 27 Februari 2012 .
Posted by
Jelsy Triwidya
at
03.10
2
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Terlupa
Seakan berlalu begitu saja, ucapan dan nasihat setiap berbincang, beberapa pesan yang tak pernah lupa diucap. Mengiyakan dengan segera, hanya memberi tanda pasti akan dilaksanakan, seakan memang benar akan dipatuhi. Tapi TIDAK !! angin berlalu dan semua yang terucap musnah terabaikan, terabaikan oleh dunia, dunia sesaat yang tak menjanjikan. Seakan ia terdusta dengan kata tegas YA, merasa lega dengan jawaban itu. Namun penguasa jiwa masih sangat kuat, peguasa jahat penghuni neraka. Inikah kemunafikan ?
Posted by
Jelsy Triwidya
at
03.06
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Good bye, Dorm
Jumat, 09 Maret 2012
Temen-temen asrama itu banyaaak banget, walaupun ga bisa kenal semuanya, tapi makasih banyak buat pertemanannya, aku jadi ngerasa punya indonesia kecil disini, anak dari sabang sampai merauke ada di asrama ini. Terimakasih teman-teman nusantara, sampai ketemu di lain waktu
Posted by
Jelsy Triwidya
at
02.48
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Dia yang merasa
Senin, 27 Februari 2012
Aneh ya teman-teman, ada seorang teman saya yang setiap saat meminta doa kepada keluarga dan teman-teman lamanya agar sukses di perkuliahan, sukses di dunia pekerjaan, dan sukses di masa depan, tapi saat meminta doa itu, tidakkah ia sadar kalau ia harus berusaha semaksimal mungkin agar ia harus bisa menjadi orang sukses, ia hanya eminta doa namun tak berusaha semaksimal mungkin, ia malas mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus, ia malas mengikuti kegiatan di luar kampus, ia malas belajar, ia malas ke perpustakaan, ia malas mengerjakan tugas, ia malas mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa, lalu apa yang tidak ia malaskan ? ia tidak malas untuk mengobrol, ia tida malas untuk online duduk di depan laptop berjam-jam hingga larut malam hanya untuk menstalking orang, atau bercerita yang kadang tidak berguna dan tidak berkualitas, ia tak melakukan kegiatan yang produktif sedikitpun, lalu apakah terpikirkan olehnya apa cerita orang tuanya di rumah, anggapan teman-teman lamanya yang tak seberuntung dirinya, ia kuliah di Universitas Indonesia, tapi sebenarnya kualitasnya tak lebih sedikitpun dari pada mahasiswa yang berkuliah di Universitas daerah.
Biaya yang dikeluarkan sudah terlalu banyak, ia sering nmenggunakannya hanya untuk membeli sesuatu yang tidak berguna, sesuatu untuk kepuasan sementara, ia tidak menyeimbangkan pengeluaran tersebut dengan pemasukkan ilmu, uang yang dikeluarkan seharusnya digantikan dengan ilm yang masuk, untuk medapatkan ilmu tersebut sebenarnya sangatlah mahal, saat ia medapat kesempatan itu, ia tak memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, dulu ia berharap bisa punya kesmpatan ini dan itu, tapi karena event yang diharapkan tidak pernah ada di daerahnya, hanya ada di kota besar, namun sekarang ia berada di kota besar, ia memiliki kesempatan yang banyak untuk mengikuti apapun yang dulu ia harapkan, tapi karena kemalasan dan kegalauan belaka, ia memilih untuk diam dan mengurungkan diri di kamar asrama, ia percuma tinggal d kota besar dengan fasilitas superbanyak, tapi ia layaknya orang desa yang mengurung diri di dalam kamar, sibuk chatting dengan teman lama, tanpa menambah ilmu sedikitpun, ia tidak tau mau jadi apa dan bagaimana selama kuliah di UI, dan setelah menamatkan kuliahnya di UI, tapi anehnya ia selalu meminta dioakan agar sukses, pertanyaannya, pengen sukses jadi apa dan seperti apa ? hmmm, mudah-mudahan ia cepat sadar dan memfokuskan dirinya untuk masa depan tanpa meninggalkan kewajibannya kepa Tuhannya, tanpa lupa mendoakan ayah ibunya, tanpa lupa melupakan orang-orang yang telah berjasa banyak untuk kesuksesannya sampai saat ini, tanpa merendahkan siapapun, dengan segala niat ikhlas dan hati yang lapang. Mudah-mudahan ia segera bangkit dengan segera dan mejadi orang sukses di dunia dan akhirat.
Posted by
Jelsy Triwidya
at
07.08
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Job Part II
Alhamdulillah, kata pertama yang terucap setelah selesai menampilkan sebuah tari kebanggaan rang minang, tari piriang. Saya, Vinny, Dina, Geni, dan para pemusik lainnya mendapat panggilan untuk menampilkan sebuah tari minang untuk acara pembukaan farewell party bem ui periode 2011, pada acara pembukaan itu ditampilkan empat macam tari dari berbagai daerah di nusantara, yaitu tari piring yang berasal dari Sumatera Barat, tari kipas dari Makassar, tari none dari betawi, tari Bali, dan terakhir kami menari bersama dengan backsound rasa sayange yang berasal dari daerah aAmbon. Kami kebetulan mendapat giliran tampil pertama.
Awalnya kami kaget melihat pentas kecil di aula terapung perpustakaan pusat, bagaimana bisa menari dengan lincah dan gerakan ekstrim dengan pentas yang ukurannya kira-kira hanya dua langkah kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk menari di bawah pentas. Deg-deg an, itulah perasaan yang dirasakan, karena kami akan tampil di depan anak-anak bem tingkat universitas yang biasanya hanya dilihat di acara-acara besar kampus, yang biasanya mereka berorasi dengan lantang. Kini mereka dengan menggunakan jas dan baju kebaya menonton kami pada pembukaan acara. Apa lagi pengalaman menari di acara besar seperti ini sangat lah kurang. Tapi berkat latihan yang serius (lebih banyak ga seriusnya sih) dan koordinasi antar penari dan pemusik yang bagus, akhirnya kami tampil dengan hasil yang memuaskan, meski terdapat sedikit kesalahan di bagian akhir tari. Tari piring yang ditampilkan adalah tari piring modern dan enerjik. Di akhir tarian, kami memecahkan piring yang sebelumnya belum pernah dilakukan saat latihan, bukan penonton saja yang kaget, kami pun para penari ikut kaget melihat serpihan-serpihan piring yang begitu cepat pecah. Setelah penampilan kami mengambil beberapa foto dengan Bang Faldo yang baru saja terpilih menjadi ketua bem ui periode 2012, dan dengan para penari dari daerah lain, kemudian bersegera mengganti kostum dan menghapus riasan yang tadinya dikenakan sendiri. Setelah itu kami makan di depan restoran korea di dekat aula terapung tersebut tanpa penerangan sedikitpun, ya sedikit lampu senter hp dan satu lilin yang diambil Vinny secara diam-diam, ya cukuplah untuk menerangi area makan malam itu. Kami makan bersama-sama sambil bercerita, mengulas balik kejadian dan konflik yang terjadi sebelum penampilan, dan juga sambil online untuk membuka facebook dan update status. Atmosfir yang dirasakan jauh berbeda dengan suasana setelah penampilan di aryaduta hotel dulu, saat itu rasanya adalah penampilan yang sangat memalukan, bukan hanya tariannya saja, tapi musik dan juga koordinasi yang kacau. Harapan kami untuk selanjutnya mudah-mudahan lebih sering dipanggil untuk tampil di berbagai acara dan tawaran pun naik menjadi dua kali lipat.
Esok harinya, agenda dilanjutkan dengan pergi bersenang-senang merayakan keberhasilan dan membayar kepenatan selama latihan denga pergi makan-makan dan karaokean. Meski pun tidak semua anggota yang datang, kami tetap merasa enjoy dan fun. Apalagi sama pria-pria mantan RSJ, Akhirnya kami pulang sekitar jam sebelas karena mampir dulu ke hypermart membeli beberapa keperluan. Kami pulang dengan hati senang gembira
Awalnya kami kaget melihat pentas kecil di aula terapung perpustakaan pusat, bagaimana bisa menari dengan lincah dan gerakan ekstrim dengan pentas yang ukurannya kira-kira hanya dua langkah kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk menari di bawah pentas. Deg-deg an, itulah perasaan yang dirasakan, karena kami akan tampil di depan anak-anak bem tingkat universitas yang biasanya hanya dilihat di acara-acara besar kampus, yang biasanya mereka berorasi dengan lantang. Kini mereka dengan menggunakan jas dan baju kebaya menonton kami pada pembukaan acara. Apa lagi pengalaman menari di acara besar seperti ini sangat lah kurang. Tapi berkat latihan yang serius (lebih banyak ga seriusnya sih) dan koordinasi antar penari dan pemusik yang bagus, akhirnya kami tampil dengan hasil yang memuaskan, meski terdapat sedikit kesalahan di bagian akhir tari. Tari piring yang ditampilkan adalah tari piring modern dan enerjik. Di akhir tarian, kami memecahkan piring yang sebelumnya belum pernah dilakukan saat latihan, bukan penonton saja yang kaget, kami pun para penari ikut kaget melihat serpihan-serpihan piring yang begitu cepat pecah. Setelah penampilan kami mengambil beberapa foto dengan Bang Faldo yang baru saja terpilih menjadi ketua bem ui periode 2012, dan dengan para penari dari daerah lain, kemudian bersegera mengganti kostum dan menghapus riasan yang tadinya dikenakan sendiri. Setelah itu kami makan di depan restoran korea di dekat aula terapung tersebut tanpa penerangan sedikitpun, ya sedikit lampu senter hp dan satu lilin yang diambil Vinny secara diam-diam, ya cukuplah untuk menerangi area makan malam itu. Kami makan bersama-sama sambil bercerita, mengulas balik kejadian dan konflik yang terjadi sebelum penampilan, dan juga sambil online untuk membuka facebook dan update status. Atmosfir yang dirasakan jauh berbeda dengan suasana setelah penampilan di aryaduta hotel dulu, saat itu rasanya adalah penampilan yang sangat memalukan, bukan hanya tariannya saja, tapi musik dan juga koordinasi yang kacau. Harapan kami untuk selanjutnya mudah-mudahan lebih sering dipanggil untuk tampil di berbagai acara dan tawaran pun naik menjadi dua kali lipat.
Esok harinya, agenda dilanjutkan dengan pergi bersenang-senang merayakan keberhasilan dan membayar kepenatan selama latihan denga pergi makan-makan dan karaokean. Meski pun tidak semua anggota yang datang, kami tetap merasa enjoy dan fun. Apalagi sama pria-pria mantan RSJ, Akhirnya kami pulang sekitar jam sebelas karena mampir dulu ke hypermart membeli beberapa keperluan. Kami pulang dengan hati senang gembira
Posted by
Jelsy Triwidya
at
06.42
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)

